The Grey Eyed Man Part 7B End

Cast : Kwon Jiyong, Ahn Sohee, Park Sanghyun

 Support Cast : Sandara Park, Yang hyun Suk, So Ae

Genre : Romance, Fantasy, Life, Sad || Rating : PG – 15 || Lenght :Chaptered

Author : Dindonline || Disclimer : Drama, Movie, Komik yang pernah author tonton.

Previous Part : http://readfanfiction.wordpress.com/?s=the+grey+eyed+man

Apa yang akan dilakukan gadis ini? Kaki telanjangnya menjejak di halaman keluarga Park itu. Beberapa waktu lalu ia pernah ke sini, dengan berbagai pemikiran tentang sosok pemuda tangguh dengan tatapan tajam itu. Dan Sohee kembali lagi, kembali untuk satu tujuan. Ia tak pernah berfikir sebelumnya tentang apa yang namanya kedamaian bagi orang, bagi kaum atau apalah itu. Ia memang tercipta sangat egosi, dan sekarang ia berdiri demi sebuah kedamaian. Ya… kedamaian atas nama seseorang yang ia cintai.

Krekk

Sohee menatap pria paruh baya di depannya, tuan Park. Senyum pria itu tak berubah, seolah sudut bibir itu mengisyaratkan sesuatu. Pria itu membuka pintu rumahnya sepenuhnya, mempertontonkan Sohee pada kumpulan – kumpulan pria berotot yang tengah berwajah tegang di dalam ruangan. Pria itu, Sanghyun. Wajahnya nampak tak percaya menatap Sohee berada di depan rumahnya.

“kau tak apa – apa?” Tanya Sanghyun khawatir. Ia memegang kedua pundak Sohee, menatapnya dari atas ke bawah. Tak cacat, masih sempurna tanpa gores apapun. Pria itu tersenyum lalu mendekap gadis itu erat. Hatinya bersuka cita, setelah semalaman terliputi kecemasan memikirkan gadis ini.

“ada yang ingin kukatakan, padamu dan pada kalian semua” ujar Sohee yakin.

 

 

Ada suatu waktu, ketika putaran bumi itu terasa nampak cepat baginya. Ya, ketika cinta itu timbul. Ketika waktu begitu cepat menelan kemesraan mereka. Tak ada yang bisa ia persalahkan seharusnya, takdirnya membawa cinta itu kandas. Bagi sebagian orang cinta itu adalah dosa dan pengkhianatan.

“memalukan” suara seorang pria menggema. Seorang wanita tampak tergolek lemah di tengah – tengah ruangan itu. Kesakitannya sudah tertelan, penderitaannya tak mungkin lagi ia aplikasikan lewat teriakan dan tangisannya. Ia terlampau lemah, tubuhnya sudah terlampau penuh dengan luka – luka siksaan.

“dosamu adalah mencintai dan melindungi seorang pria dari klan yang hampir membantai nenek moyangmu dulu” lanjut pria berjubah itu.

“pertanggung jawabkan dosa itu sesuai hukum klanmu itu sendiri” tak lama suara mulai riuh. Dua algojo menarik wanita itu, meletakkan kepala wanita itu pada sebuah batu kehitaman.

Doa terkamit dari bibirnya, matanya terpejam. Tak ada yang ia sesali, baginya cinta itu suci. Cinta tak mengenal dari klan mana ia berasal.

Kress,

Sebuah batu besar jatuh, tepat di kepala wanita itu. Darah mengucur, membanjiri ruangan berlantai tanah tempat gadis itu terkulai. Riuh, menyoraki kematian tragis itu. Mungkin di ruangan ini tak ada yang menangisi kematiannya. Tapi seorang pria yang bersembunyi di balik dinding itu tercekat. Tangisnya sudah tak mampu keluar, duka sudah benar – benar meliputi hatinya. Gadisnya, wanitanya. Tereksekusi karena jalinan cinta yang benar – benar terlampau haram bagi mereka. Mata pria itu memerah, ia sangat membenci ini. Semuanya, dendamnya. Baginya ini benar – benar sesuatu yang tak adil.

 

 

Tuan Yang menghela nafas dalam,  ia memejamkan kedua matanya. Kembli lagi terangkat memori – memori kelam yang semakin mengakar dalam dendamnya. Tak bisa dipungkiri alas an ia terlampau membenci werewolf, klan dimana cintanya itu lahir dan berakhir. Setelah ia menjadi sosok intelek dalam drama yang sudah hampir terlaksana sesuai harapannya. Hanya tinggal pertempuran itu, dengan bantuan sosok So Ae. Dengan bantuan seluruh panglima – panglima yang ia buat.

“apa yang harus aku lakukan agar putriku kembali?” Tanya So Ae membuyarkan lamunan tuan Yang.

“apa pertempuran itu?” lanjut wanita itu lagi.

Tuan Yang tersenyum, ia menoleh kea rah wanita yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana. “sebenarnya aku tak meminta apapun” jawab Tuan Yang.

So Ae tersenyum sinis mendengar jawaban pria di depannya. “bukankah ini semua sudah kau atur?” ketus wanita itu. Tuan Yang mematung.

“bukan aku yang membunuh wanita itu, aku hanya kau peralat. Aku terlalu bodoh” lanjut So Ae.

“apa kau takut putrimu disakiti olehnya?” Tanya Tuan Yang.

“apa ini rencanamu yang sesungguhnya? Agar aku terlibat kau memanfaatkan putriku?” So Ae menahan amarahnya.

Brakk!

Dengan gerakan super cepat Jiyong menyerang Tuan Yang, tapi sayang cengkaramannya tertahan oleh cekikan tangan So Ae di lehernya. Mata keabuan Jiyong memancarkan amarah, tatapan yang seharusnya ia tujukan pada Tuan Yang beralih pada wanita cantik di depannya.

“jangan ikut campur!!” bentak Jiyong meronta.

“mana putriku?” Tanya So Ae tajam.

“bunuh dia!!” perintah Tuan Yang, Jiyong tersenyum. So Ae sedikit bimbang menatap senyuman Jiyong.

“kau menginginkan putrimu bukan? Bunuh dia” bentak Tuan Yang.

Jiyong terkekeh, tatapan tajamnya tak lepas dari Tuan Yang. “Ahn Sohee” ujar Jiyong. Kening So Ae terkerut mendengar Jiyong menyebut nama putrinya.

“jangan buang – buang waktu, cepat bunuh pria bodoh itu!!” perintah Tuan Yang.

“dia tidak akan membunuhku, Sohee ada padaku” sahut Jiyong. So Ae menatap sorot keyakinan di sana, di kedua iris pemuda yang dulu atas permintaan Tuan Yang ia seret dalam lembah kegelapan.

“kau berbohong padaku!!” seru So Ae, dengan sekali gerakan tubuh pria di belakangnya itu ia banting ke dinding.

So Ae menatap tajam pada Tuan Yang, amarah memuncak di sana. Sudut matanya memicing segaris gerak tipis Tuan Yang bangkit dari lantai.

“kau tidak akan menang melawanku” ujar So Ae.

“izinkan aku, izinkan aku membunuhnya. Orang yang telah membunuh ibuku” ucap Jiyong menatap So Ae. So Ae mundur beberapa langkah, memberikan cukup ruang untuk Jiyong.

“aku meragukannya, ketika Seunghyun dan Dara datang padaku untuk mengatakannya” ucap Jiyong menatap Tuan Yang yang sudah berdiri.

“kau yang membunuh ibuku…. Apa alasanmu?” bentak Jiyong penuh amarah.

Tuan Yang membenarkan letak jubahnya, ia terkekeh menatap Jiyong. Menatap pria itu meremehkan. “tidak ada yang istimewa, menyedihkan” ujar Tuan Yang.

“kau yang menyedihkan” timpal Jiyong.

Pria itu tertawa semakin keras, kedua bola matanya memicing. “waktu itu kau masih sadar, detik – detik ketika ibumu disiksa. Wanita itu bukan? Dia yang melakukannya” Tuan Yang mencoba mengadu domba. Tatapan Jiyong mulai ragu, ia memang ingat betul aroma wanita yang beberapa tahun lalu menyiksa ibunya.

“Ibumu membunuhnya, pria yang sangat So Ae cintai. Terlalu picik jika kau menuduhku membunuh ibumu, akulah yang menampungmu selama ini”

“Kau yang picik, kau yang membunuhnya. Dengan senapan itu kau yang menembak Kwon Sena” teriak So Ae marah.

Jiyong terdiam, tak ada yang bisa ia percaya sekarang. Entah itu So Ae ataupun Tuan Yang. Ia menatap kedua orang itu bergantian, melihat kedua bola matanya. Mencari di mana letak kejujuran itu berada. Jiyong kesulitan, sangat kesulitan. Keduanya bukan orang – orang yang bisa ia percaya.

‘aku bersumpah demi rasa sukaku padamu. Aku mendengarnya, pria tua itu mengatakannya. Ia menekan lukisan wanita menangis di kamarnya, ada sebuah pintu khusus. Aku mengikutinya dan ia mengatakannya. Ia berdiri di sisi sebuah peti yang entah kuyakin ada sesuatu di sana. Jelas kudengar ini demi sebuah dendam pribadi, ia menyeretmu dan ratusan vampire di sini. Demi sebuah dendam pada klan werewolf’

Pengakuan Dara terngiang di kepalanya. Dara tak mungkin membohonginya. Gadis itu, memiliki kepekaan telinga yang sangat kuat dan terlebih…. Ia mempercayainya.

Jiyong bergerak, ia melempar koin ke arah lukisan di belakangnya. Tak lama dinding di lukisan itu bergerak ke dalam membentuk sebuah pintu. Tuan Yang terperangah, dengan cepat Jiyong masuk di ikuti Tuan Yang dan So Ae.

Jasad wanita, ia di awetkan dengan sempurna. Sisi kepalanya retak dan masih ada sisa – sisa darah mengering di sana.

“Siapa dia?” Tanya Jiyong heran, ini tak seperti perkiraannya. Seorang jasad wanita siapa dia?

Tuan Yang mengepal kedua tangannya penuh amarah. Gurat otot nampak mulai muncul di sekitar mata pria paruh baya itu.

“menjauh!!” bentaknya marah menyerang Jiyong.

Brak,

Tubuh Jiyong terlempar di dinding, barisan lilin di sisinya mulai menyulut – nyulut karena jatuh berantakan.

“oh, jadi itu benar?” So Ae mendekat menatap peti mati itu “kupikir hanya dongeng” lanjutnya. “jadi kau orangnya?”

Ucapan So Ae semakin menyulut amarah Tuan Yang. Kedua taringnya muncul, amarah pria itu akhirnya memuncak. Ia mengerang dan membabi buta menyerang So Ae. So Ae tak kalah gesit, karena bagaimanapun Tuan Yang kalah kelas dengannya.

“keterlaluan, aku akan membawamu pada Yang Mulia!!” Seru So Ae. Ia berhasil melumpuhkan Tuan Yang, pria itu tersungkur di lantai. Tatapan tajam So Ae beralih pada Jiyong yang mulai bernafsu menyerang Tuan Yang.

“berhenti, biarkan aku yang mengurusnya. Ini bukan hanya soal dendam, dia harus dihukum seberat mungkin atas perilakunya” jelas So Ae mengurungkan niat Jiyong.

“aku benar – benar dungu, terjebak oleh provokasi vampire berdarah campuran sepertimu. Terlebih, demi sebuah dosa yang telah kau buat” gerutu So Ae menarik paksa Tuan Yang.

 

 

Sohee menekuk kakinya, kedua tangan ia lingkarkan di sana. Sebuah selimut bertengger hangat di pundaknya, beberapa menit lalu ayahnya yang meletakkan selimut itu dengan tatapan sendu yang cukup tak bisa ia artikan maksudnya.

Gadis itu mendesah, entah lamunnya melayang akan aktivitasnya beberapa hari yang lalu. Duduk bersendekap sambil memandangi bingkai jendelanya. Sejak tadi – ketika ia berada di rumah Sanghyun dan ayahnya menjemputnya – gadis itu sama sekali tak mendengar kabar tentang Jiyong. Resah, khawatir, bingung semua terbingkai dalam pandangannya pada jendela eboni itu. Apakah prianya selamat? Baik – baik saja? Ah….. bertanya – pertanyaan dalam otaknya seolah seperti ulat yang menggerogoti pikirannya.

Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menunggu, bersendekap seperti ini dan menunggu.

 

 

Jiyong menyandarkan kepalanya, duduk di batang pohon di seberang jendela kamar Ahn Sohee. Ia ingin berlari sesungguhnya, mendekap tubuh mungil itu dalam pelukkannya. Membisikkan aku baik – baik saja agar binar matanya kembali berkilat – kilat. Tapi entah kenapa Jiyong masih tak bergerak, seolah hanya ingin menikmati suasana seperti ini lagi. Menatapnya dan menikmati wajahnya yang cantik. Entah seberapa keras dan seringnya hati miliknya memprotes apa yang ia lakukan. Ia hanya ingin sebentar saja seperti ini, menikmati wajahnya dari jauh untuk sebentar saja.

 

 

Pintu kamar Sohee di ketuk, tak lama ibunya nampak masuk ke dalam kamar. Gadis itu masih diam, tak beranjak. Ia sudah cukup tahu bahwa itu adalah ibunya.

“apa kau baik – baik saja?” wanita itu mengelus pucuk kepala Sohee. Gadis itu tak bergeming.

Ibunya mendesah pelan, melepaskan sisa – sisa udara di paru – parunya. “aku minta maaf menyeretmu sejauh ini” sesalnya menunduk.

“ayahmu sudah memberi tahumu?” Tanya wanita itu hati – hati.

Ah, Sohee sempat melupakannya. Karena rasa rindunya pada Jiyong ia sempat mengabaikan fakta itu. Gadis itu tersenyum sinis, acuh dan tak peduli.

“ini…. Aku… benar – benar minta maaf” wanita di sampingnya mulai tersedu.

“tak apa, aku tak terlalu memikirkannya” sahut Sohee. Wanita di sampingnya mengerutkan dahi.

“aku masih punya kesempatan hidup bukan? Jadi ibu tak perlu khawatir” ucapnya bersungguh – sungguh.

So Ae tertegun, tapi ia tak sanggup berbuat apa – apa. Ia hanya mengangguk sambil meremas pelan pundak putrinya. Ia tak menyangka Sohee setegar ini, wanita itu menghela nafas pelan. Bahkan sesungguhnya ia pun tak bisa menjamin, kesempatan itu entah ada atau tidak. Wanita paruh baya itupun tak tahu pasti.

“semua baik – baik saja. Pria itu tak apa – apa, mungkin sebentar lagi ia ke sini” ucap So Ae. Sohee mendongak, ada rasa lega dari hempusan nafasnya. Ibunya tersenyum, beranjak pergi. Membiarkan moment indah putrinya terjalin.

 

 

Entah kesepakatan apa yang terjadi antara ayah dan ibunya. Hanya saja Sohee pikir ayahnya sudah tahu tentang tabir misteri tentang ibunya, dirinya dan apa yang sedang terjadi. Ayahnya bukan tipe pria yang cerewet hanya saja dari setiap kata yang ia tuturkan tadi -tentang keadaan Sohee- pria paruhbaya itu nampak pasrah. Mungkin bagi ayahnya ini bukan zona yang dapat ia pahami. Ayahnya tinggal di lingkungan modern, dan hal klenik seperti ini bukan kapasitasnya untuk memberi pendapat. Hanya saja seperti itu yang Sohee tangkap dari ayahnya tadi.

Sohee tersentak ketika tangan Jiyong membelai lembut pipinya. Alam sadarnya perlahan ia bangun ketika menatap samar – samar wajah di hadapannya. Ini bukan mimpi, itu yang ia yakini. Sohee tersenyum, tanpa komando ia sudah menubruk Jiyong. Memelukknya dengan segala kelegaan. Pria itu terkekeh, menghirup aroma gadisnya sesaat lalu membalas pelukkan Sohee pelan.

“semuanya baik – baik saja?” Tanya Sohee mentap Jiyong. Pria itu mengangguk yakin.

“apa kau baik – baik saja?” Sohee terdiam mendengar pertanyaan Jiyong. Ia sedang tidak baik – baik saja, itu faktanya.

“yah,…kurasa” jawab gadis itu tersenyum.

“kau akan baik – baik saja” bisik Jiyong seolah mengerti tentang kondisi Sohee.

 

 

Ia tak pernah menyadarinya atau lebih tepatnya ia acuh pada kondisi tubuhnya selama ini. Sohee memang kadang merasakan kepalanya berputar, tapi ia pikir kondisi tubuhnya saja sedang kurang baik. Ketika sekarang darah segar mungucur melalui lubang hidungnya dan tentang ‘kenyataan’ itu ia mulai terbangun. Ya.. ia tak akan lama lagi bernafas di dunia.

“apa yang kau bicarakan dengannya?” Jiyong memicingkan matanya curiga.

“ssh” dengus Sohee kemudian tersenyum.

“lanjutkan lagi memasakmu oppa” lanjut gadis itu.

“mm….. dia tidak memelukmu bukan? Aku tak suka ia melakukannya” keluh Jiyong, Sohee menutup mulutnya menahan tawa.

“sebenarnya….” Jiyong dengan seksama menatap Sohee “hanya sebentar” putus gadis itu. Jiyong mendesah kesal “aku sudah bisa menduganya” gerutu pria itu akhirnya.

Sohee terkekeh, ia melingkarkan tangannya pada pinggang Jiyong. “tapi hanya kau yang aku sukai oppa”  gumam gadis itu. Jiyong tersenyum, kedua bola matanya berkaca – kaca. “aku tahu” sahut pria itu yakin. Jemarinya menyentuh tangan Sohee yang putih pucat, membelainya lembut. Merasakan seolah aliran darah itu mulai melamah.

“jikapun semuanya harus berakhir, aku sudah cukup bahagia” ujar Sohee tersenyum. Air mata itu akhirnya turun dengan punggung tangannya Jiyong menghapusnya.

“supnya sudah jadi!!” seru Jiyong memecah suasana yang mulai ia benci itu.

“aku tidak yakin rasanya enak, ini…… sudah bertahun – tahun aku tak membuatnya” lanjut Jiyong memapah Sohee ke meja makan.

“tidak masalah, appa juga bukan pemasak handal. Dan aku selalu menghabiskannya” sahut Sohee. Jiyong hanya tersenyum, entah kenapa hatinya sedikit kacau.

 

….

 

Dan ketika cahaya sore itu berakhir, meninggalkan segaris tipis kehidupan yang baginya sangat berharga. Gadis itu tertidur dengan cantiknya, ia tak pernah menarik selimutnya sangat awal. Ia pasti menunggunya, entah pria itu benar – benar datang atau tidak. Matanya terpejam sempurna, nafasnya tipis, entah Jiyong seperti tak merasakannya. Tawanya masih nyaring ketika sore itu – meski hanya di rumah dan di temani lampu – tapi baginya sekarang sangat hening, teramat hening.

Jiyong tak merasakan apapun, ia pikir dirinya sudah cukup kuat untuk menerimanya. Ia sudah pernah mati – hampir mati – ia pikir rasanya akan sama. Tapi ternyata ini berbeda, di hujam – hujam jarum dan semakin membuat dadanya sesak. Pria itu melipat tangannya, menyandarkan kepalanya di celah kecil kedua tangannya. Ia masih yakin Sohee hanya tertidur, dan esok hari gadis itu akan memintanya membuatkan sup lagi. Sambil membahas tentang Sanghyun yang begitu Jiyong cemburui.

Ya, ia hanya berharap Sohee benar – benar tidur. Tidur sangat pulas seperti saat ini. Terhampar cahaya kecil sang rembulan yang membasuh wajahnya yang damai. Sangat damai, bahkan membuat Jiyong sangat takut untuk memandangnya.

 

The End

Epilog

 

                Sejak kapan aku menyukainya? Kupikir aku sudah menemukan jawabannya. Ia duduk, memainkan botol susunya. Kepalanya bergoyang pelan dengan helaian rambut jatuh di pundaknya. Sedetik itu aku mengabaikan kebencianku padanya, pada aromanya dan pada sorot matanya. Aku membenci sorot matanya, entah kenapa aku tak menyukainya. Bukan karena sorot mata itu penuh kebencian tapi karena sorot matanya seperti seekor kucing yang mengawasiku. Ayolah, terlalu konyol memang menganggapnya mengawasiku. Faktanya, akulah yang selalu mengawasinya. Tapi entah kenapa aku ingin terlibat sangat jauh. Bukan hubungan sebagai mangsa dan pemangsa, aku… hanya sedikit ingin mengenalnya.

Ia beranjak, berjalan pelan melintasi trotoar sambil sesekali menghela nafas dalam. Dan kembali sedetik itu aku terbius, sorot mata itu mencengkram kedua bola mataku. Kami berpandangan dan kemudian itu cukup mampu mengusik otakku.

‘jika dia bukan mangsaku, apa aku benar – benar akan jatuh cinta padanya?’

Ya, dan sekarang saja aku sudah mulai jatuh dalam pelukkannya.

Iklan

4 respons untuk ‘The Grey Eyed Man Part 7B End

  1. End? Udah bener2 end? Yaaahh kenapa sohee nya mati T.T aku kira dia bakalan jadi vampire huhuhu kasian jiyong sendirian deh.. Tpi gpp berarti selama ini jiyong diboongin ya? Tuang yang yg jahat ternyata ckck tpi aku belum paham siapa cewe yg dipeti itu, orang yg disukai tuan yang apa gimana? @,@
    aah walaupun endingnya ga bersama tapi lumayan udh ga penasaran haha. Good job authornim^^

    • sejujurnya, ceerita ini masi pengen author kembangin. ya semacam sequel gitu kya twilight. udah ada kerangka ceritanya. tapi masih belum bisa di aplikasiin. maklum keadaan lgy kurang fit. makasi ya uda ngikutin ni cerita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s