Sarangheyo

Cast : Kwon Jiyong, Ahn Sohee,

 Support Cast : Seungri, Lee Sunmi

Genre : Romance, Marriage Life, Sad || Rating : PG – 15 || Lenght : Oneshoot

Author : Dindonline || Disclimer : sebuah cerpen di salah satu FP Facebook. Judulnya lupa

Mobil tua itu terlihat melintasi jalanan aspal, bannya nampak aus meski masih mampu mencengkram aspal dengan baik. Tiap milimeter yang terlewati wanita itu meningkatkan kecepatannya. Ia terlihat mahir tapi kemahirannya itu tak cukup mampu membuat pengendara lain tak membunyikan klaksonnya dengan kesal. Tangannya mencengkram stir mobil  dengan erat, menimbulkan guratan otot dengan ujung – ujung jemari yang memerah di tangan putihnya. Wanita itu menangis, dengan air mata sedih campur marah kentara dari sudut kedua matanya.

Semua orang selalu menganggapnya gadis beruntung, ia sangat egois tapi memiliki suami yang terlampau sabar. Ia seorang pencemburu tapi beruntung suaminya orang yang setia. Mungkin entah baginya kata – kata itu hanya sebuah cangkang telur yang mulai retak. Menurutnya apa yang dilihatnya tadi sudah cukup memberikan gambaran seperti apa suaminya yang sebenarnya.

Suara bip bip bip yang keluar dari manometer  masih menggema di ruangan yang serba putih itu. Seolah mengabaikan fakta pria tua itu sejak beberapa jam yang lalu tak pernah beranjak dari tempat duduknya. Wajahnya terlihat kuyu menautkan jemari tuanya pada jemari seorang wanita yang masih tertidur tenang di tempat tidurnya. Baginya guratan halus di wajahnya masih sama, tetap cantik dan selalu membuatnya jatuh cinta jika menatapnya. Ujung mata pria itu mulai berair lalu lambat laun terisak menciumi telapak tangan wanita itu dengan sayang.

Sohee

 

Dasar pria jalang, hanya kata itu yang mampu menggambarkan bagaimana sosoknya itu. Ini sungguh konyol aku tak mampu menangkap apa yang ada di otaknya padahal kita menghabiskan waktu bersama. Atau aku yang mungkin terlalu bodoh tak bisa mengerti arti tatapannya tiap sarapan pagi. Aku hanya ingin bangun sekarang, aku hanya ingin bangkit lalu memeluk dan menciuminya sampai puas. Aku hanya berharap dengan cara seperti itu dia dapat memaafkanku, aku tak ingin kehilangan dia.

Ujung – ujung tanganku bergerak pelan, diiringi kelopak mata yang mulai mengerjap. Ada bau aneh ketika lubang hidung ini menghirup udara yang ada di ruangan. Ada suara sedikit ribut ketika otakku merespon apa yang ditangkap oleh gedang telingaku. Aku hanya mampu menatap langit – langit yang nampak putih. Tak ada yang istimewa, tak ada Jiyong di depanku.

“Jiyong” hanya kata itu yang bisa aku gumamkan.

“Jiyong” ini sudah kesekian kalinya sebelum akhirnya otakku ini mulai mampu merespon apa yang ada di ruangan.

Aku hanya mampu menyunggingkan senyum tipis ketika menatap pria itu di depanku. Ia masih terlihat sama, tetap seorang suami yang tampan tanpa sedikit cacatpun di mataku.

“Sohee ya, yeobo” gumamnya. Entah mungkin mataku sedikit tak berfungsi dengan baik, ia seperti menangis seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan.

“yeobo kau kenapa?” tanyaku sedikit heran dengan sikapnya.

Aku menatap orang – orang aneh ketika Jiyong memelukku, beberapa orang dengan jas – jas putih. Apa mungkin dia dokter? Sepertinya memang benar. Mereka menatapku lega juga bahagia tapi entah juga ada rasa sedih di sudut sana.

“apa yang terjadi?” tanyaku ketika Jiyong melepas pelukanku.

“kau kecelakaan dan sekarang semua sudah baik – baik saja” Jiyong membenahi selimut lalu menuntunku untuk berbaring.

Ini hari ketujuh dan akhirnya Jiyong mengajakku kembali pulang, tapi sejujurnya ada rasa mengganjal yang tiba – tiba kurasakan di hatiku. Apalagi ketika Jiyong menjengukku wanita itu selalu mengikutinya. Aku tak suka, aku benar – benar tak suka dia selalu dekat – dekat dengan Jiyong.

“siapa dia?” aku menunjuk gadis berambut panjang yang sedang mengemasi pakaian – pakaianku.

“dia sekretarisku yeobo” ujar Jiyong tertahan, wanita itu membungkuk lalu tersenyum tipis.

“aku tidak suka dia selalu dekat denganmu” Jiyong hanya tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.

Ini masih sama, tempat yang kami diami. Perabot – perabot yang kami pilih berdua ketika membeli rumah kecil ini. Sekarang aku memang hanya mampu berjalan pelan karena mungkin efek kecelakaan yang terjadi beberapa hari yang lalu. Tapi sejujurnya aku ingin menjamahi lagi tiap ruang ini. aku ingin menyapu lantainya, aku ingin memasak di dapurnya, dan aku ingin mengelap debu yang masih tertempel di perabotan rumah.

“kemana meja riasku yeobo?” tanyaku pada Jiyong ketika aku menjamahkan pantat di tempat tidur untuk pertama kali sejak kecelakaan.

“ah…. maaf, aku ingin menggantinya dengan model yang baru” jawab Jiyong sambil merapihkan syal yang melingkar di leherku.

“aku ada keperluan sebentar, aku akan kembali jadi sekretarisku akan menemanimu yeobo. Emm?”

Aku hanya terdiam sebentar lalu melirik gadis yang berdiri tak jauh dari kami, ini lebih baik daripada dia pergi bersama Jiyong.

“baiklah, hati – hati dan cepat pulang” aku mengelus pucuk kepala Jiyong.

“aku tahu” ujarnya mengecup keningku lembut.

 

Detik jam terus berputar membiarkan dua orang wanita itu saling diam di dalam ruangan kamar. Sohee hanya menatapnya, menatap gadis yang dengan telaten merapikan pakaian  almari bajunya. Sohee menatap punggung berbalut cardigan kuning gading, menatap gadis berambut panjang yang helaian rambutnya terlihat jatuh ketika ia membungkuk.

“pergilah, aku ingin sendiri” perintah Sohee, gadis itu hanya tersenyum tipis lalu membungkuk sebelum pergi.

“tunggu” gadis itu menahan langkahnya lalu menatap Sohee yang memanggilnya.

“aku mencintai suamiku dan aku tak suka kau dekat – dekat dengannya” ujar Sohee.

“aku mengerti nyonya” jawab gadis itu sambil mengangguk pelan. Ia melanjutkan langkahnya lalu menutup pintu kamar Sohee dan Jiyong dengan sempurna.

Sohee menghela nafas pelan, ia menamati lagi tiap centi kamar miliknya. Memang tak berubah, tetap sama seperti terakhir kali ia tinggalkan. Sohee menatap laci di dekat tempat tidurnya, ia ingat sebelum pergi meninggalkan kaca kecil pemberian Jiyong untuknya di dalam laci itu. Tangannya bergerak pelan membuka laci itu, menatap kaca dengan lapisan perak di sisinya sambil tersenyum tipis.

Prank!!!!!

Pecahan kaca nampak berserakkan di lantai, di ikuti hentakan kaki sekretaris Jiyong yang masuk ke dalam kamar. Gadis itu nampak kaget melihat pecahan kaca di lantai dan Sohee secara bergantian. Sedang Sohee hanya terdiam, ia meraba kerutan di wajahnya.

“berapa lama aku tertidur?” gumamnya pelan.

Seungri menangis menatap makam ayahnya, ia mulai terisak sambil memegang pucuk batu nisan milik ayahnya itu. Jemarinya meraba pelan ukiran nama yang masih nampak baru itu, ia menunduk dan mulai memukuli dadanya yang terasa nyeri.

“kau benar appa, oemma kembali. Ia telah kembali, andai kau bisa menunggunya lebih lama lagi” gumam Seungri terisak.

Sohee menangis, ia menatap kado yang 25 tahun lalu akan diberikan Jiyong untuknya. Kado yang membuatnya salah paham menganggap Jiyong berselingkuh di belakangnya. Kado yang sengaja ia siapkan hanya untuk dirinya itu. Sebuah kalung liontin, kalung yang ia pikir untuk wanita lain.

Flashback

 

Jiyong tua terlihat bersujud di depan beberapa dokter, ia bersimpuh berharap selang – selang yang mampu membantu istrinya hidup itu agar tidak di cabut. Ia sudah mengbaikan dirinya sendiri agar orang yang ia cintai itu bertahan jadi ia berharap keputusan untuk mengakhiri istrinya itu ditangguhkan.

“ini sudah menjadi keputusan rumah sakit tuan Kwon, ini sudah 25 tahun dan tidak ada perkembangan apapun darinya” jelas salah seorang dokter.

“kumohon ulur waktunya, ulur waktunya sedikit saja. Aku yakin dia akan kembali, aku yakin” pinta Jiyong memohon.

 

_The End_

Iklan

6 respons untuk ‘Sarangheyo

  1. Huaaaaa HeeDragoooonn.. aku reader baru author, aku suka tulisan2mu, aku juga suka baca di readfanfic. makasih yaa udh bikin ff sohee ama Jidi.
    sedih banget, kenapa rata2 HD slalu tragis ya, kkkk….. Sukses thor ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s