The Third Opportunity

Cast : Kwon Jiyong, Ahn Sohee

 Support Cast : Taeyang, Choi Seunghyun, Lee Junho, Sandara Park

Genre : Romance, Fantasy, Life, Sad || Rating : PG – 15 || Lenght :Oneshoot

Author : Dindonline || Disclimer :Operation proposal || Intro :maaf bila typo dimana – mana

                Lembaran kisah lajangnya mungkin akan berakhir, sebuah kisah baru yang seharusnya tersambut oleh senyum dan kebahagiaan dari wajahnya. Sejak matahari mulai menampak malu – malu ia nampak semakin kusut. Tubuhnya yang berbalut jas lengkap nampak terkulai di kasur miliknya yang sedikit berantakan. Tak nampak bahagia, ya… mungkin saja. Nafas pelan yang terdengar sedikit serak. Ia memosisikan tubuhnya telentang, memandang langit – langit kamarnya yang tentu saja sudah tak asing. Ada papan dart di sana. Sudah sangat usang,terabaikan ketika usia remajanya dulu beranjak. Benda yang selalu menemani kegalauannya – mungkin, membisu dan hanya melempari papan dart itu secara serantanan.

Taeyang mempercepat langkahnya, beberapa kali ia melewati dua anak tangga sekaligus. Wajahnya terlihat sedikit khawatir, kepalan tangannya tertahan di udara ketika ia menatap daun pintu yang menjadi tujuannya. Ia sedikit ragu untuk melakukan ketukan pada daun pintu berbahan eboni itu.

“Jiyong ah, apa kau sudah siap? Ku harap kau bisa turun segera” taeyang lebih memilih memanggilnya. Mengabaikan rasa kasihannya pada pria itu.

Nafas berat Jiyong makin terdengar, dengan malas ia bangkit dari tempat tidurnya. Duduk sebentar di pinggiran tempat tidur itu. Merogoh cincin dengan anak berlian bersembunyi di antara lengkungan itu. Cincin yang mungkin saja beberapa jam yang akan datang melingkar di jari manis Sandara. Ada beban di sana, ketika tatapan sayup itu menghakimi keputusan Jiyong. Sebuah sesal yang tentu saja tertanam di hatinya.

Masih dengan berat akhirnya Jiyong beranjak berdiri, tiap langkah kakinya mungkin jejak doa yang terkomat – kamit dari bibirnya. Berharap ada keajaiban di sana, ketika daun pintu itu terbuka dan ia hanya bermimpi semata.

Cklek

Daun pintu kamarnya yang perlahan lolos dari bingkainya. Jiyong tersentak, seorang pria yang tentu saja tak pernah ia kenal menyambutnya dengan senyum. Ia berbadan tegap dengan stelan jas tak kalah lengkap darinya, tersenyum seolah lengkung itu tanpa beban.

“siapa kau?” tanya Jiyong selidik, pria di depannya bukan sanak saudara Jiyong. Bahkan mungkin ini baru pertama kalinya Jiyong melihatnya.

“kau tak akan percaya, aku akan membantumu. Dalam dua ketukan kakiku yang berharga kau akan kembali. Jangan sia – siakan itu atau dalam 30 menit yang akan datang kau akan menyesal seumur hidupmu. Tiga kesempatan aku memberikanmu, ingat itu!!” pria muda itu mengetukkan kakinya ke lantai dua kali sebelum Jiyong berhasil mengucapkan kata – kata herannya pada pria itu.

Semua berubah hampa, benda – benda di sekitar Jiyong seolah beterbangan. Kaki beratnya berubah ringan dan sesuatu seolah menyedotnya. Meninggalkan bercak – bercak cahaya dan menghitam sempurna.

….

Kelopak mata Jiyong mengerjap pelan setelah ia benar – benar yakin seseorang telah mengguncang kedua pundaknya. Ruang diantara alisanya itu membentuk lipatan yang hampir menyatukan kedua ujung alisnya. Ia menggerakkan pelan kedua tangannya yang kaku, seolah hal yang baru saja ia lalui menyedot semua energinya. Mengucek kedua kelopak matanya yang masih ingin terkatup.

“Kwon Jiyong pelajaran sudah berakhir satu jam yang lalu apa kau tak ingin pulang?” suara  gadis yang berhasil membangunkan Jiyong dari imajinasinya. Seperti takjub bahwa pria itu mendengar getar suara itu lagi di rongga telinganya.

“Ahn Sohee” gumam Jiyong tak percaya. Pria itu mematung, masih setengah sadar – mungkin – hanya saja bibirnya nampak terbuka.

“ada apa denganmu? Ayo pulang” gadis itu kembali sibuk dengan mejanya. Merapikan beberapa lembar kertas yang berserak tak beraturan di sana.

“Ahn Sohee” panggil Jiyong, gadis itu menghentikan kegiatannya. Ia menatap heran pada Jiyong, tangannya melambai seolah memastikan pria di depannya memang sudah sadar sepenuhnya.

“jangan bercanda ayo cepat pulang” pinta Sohee akhirnya.

Keajaiban, ya mungkin saja. Otak Jiyong mulai berputar, mengingat lagi situasi seperti apa yang pernah terjadi padanya. Bayangan pria yang menyambanginya di balik pintu kamar dan juga….

“Sohee ya” panggil Jiyong. Gadis itu menoleh, dengan tatapan masih sama herannya dengan sebelumnya.

“apa sore ini kau ada khursus piano?” Sohee mengerut heran dengan pertanyaan Jiyong. Kursus piano, tak ada yang tahu bahwa ia ikut kursus piano.

“dari mana kau…”

“aku tahu, ayo kita pulang” potong Jiyong dengan senyum simpul penuh makna.

….

 

Seorang pria muda datang pada Jiyong, dengan ucapan yang tak pernah  ia dengar sebelumnya. Pria itu melemparnya ke waktu di mana ia ingin kembali. Waktu ketika Jiyong mulai menyesalinya setelah itu terlewatkan. Pria itu tiba – tiba datang, hanya tersenyum lalu mengabulkan keinginan mustahil Jiyong. Ini benar – benar keajaiban, ia ingin menyangkalnya tapi tetap saja ini nyata. Aroma parfumnya masih sama Sohee, polah gadis itu tak berubah dan ini nyata. Apakah Sohee menginginkan Jiyong untuk memperbaikinya? Ya, tentu saja. Dan Jiyong tahu ia tak akan pernah menyesalinya.

Pria itu masih ingat betul, hujan turun ketika tangan halus Sohee mencengkram erat seragam sekolah miliknya. Ketika sepedah yang Jiyong kendarai meluncur bebas di jalanan menurun dekat pertokoan. Yah, tanpa meminta pendapat siapapun Jiyong memilih menepi. Membiarkan Sohee lolos dari boncengan lalu berlari kecil mengindari hujan. Jiyong mengekor, setelah yakin betul sepedah yang selalu mengantarnya dan Sohee terparkir dengan sempurna. Di pinggiran pertokoan itu ia mencoba memantapkan hati, yah masih sama seperti dulu. Menatap rambut Sohee yang setengah basah, tangannya yang membelai pipinya yang juga basah. Tentu saja Jiyong tahu Jantung miliknya tak akan menolak bekerja lebih keras karena menatap Sohee.

“Ahn Sohee” panggil Jiyong, Pria itu menyukai ketika kedua mata sipit Sohee meliriknya.

“sebenarnya aku berencana mengatakannya padamu bahwa hari ini aku ada kursus piano, tapi kau sudah mengetahuinya” ujar Sohee sambil menatap hujan.

Ya, ini benar – benar keajaiban. Jiyong memang masih hafal betul setiap moment ini. Ia memanggilnya dan seharunya Sohee menjelaskan bahwa ia mengikuti kursus piano sore ini.

“Ahn Sohee sebenarnya aku….” bibir Jiyong tertahan, sama ketika saat itu ia ingin memberi pengakuan pada Sohee. Membiarkan sudut terkecil mata itu sepenuhnya menatap Jiyong penuh tanya.

“Ahn Sohee sebenarnya sejak dulu aku menyukaimu” ucap Jiyong akhirnya, beberapa baris kata yang dulu ia urungkan untuk di ungkapkan pada Sohee.

…………..

….

“Jiyong ah, kenapa kau masih berdiri di situ? Ayo cepat turun” panggil Taeyang yang berdiri di ujung tangga.

Jiyong tersentak kaget, ia menatap Taeyang sambil mengangguk pelan. Ada sorot tak percaya dari tatatapan Jiyong.

“apa kau berhasil?” tanya pria berbadan tegap itu ketika Taeyang berlalu pergi.

“apa kau berhasil?” gumam Jiyong setengah sadar, gumaman yang berhasil membuat otak Jiyong kembali berfungsi. “apa yang terjadi? Siapa kau sebenarnya? Aku? Dan Sohee? Bagaimana ini bisa terjadi?” Jiyong menodong pria di depannya dengan berbagai pertanyaan.

Pri itu hanya terkekeh menatap keterkejutan di wajah Jiyong. “panggil aku TOP” pria itu memperkenalkan diri, meski tentu saja tak mengubah rasa keterkejutan di wajah Jiyong.

“Tuhan hanya ingin menolong hambanya melalui aku, Tuhan ingin memberimu 3 kesempatan untuk memperbaiki masa lalumu”

“apa? jadi? Semua ini?” wajah Jiyong semakin terkejut. Bola matanya mengekor mengikuti pria bernama TOP itu berjalan menuruni tangga. Mau tak mau Jiyong pun mengekor di belakang.

“aku masih punya 2 kesempatan bukan?” tanya Jiyong. Top menoleh lalu tersenyum “tentu saja” sahut pria itu yakin.

“tapi ingat” TOP menghentikan langkahnya ketika akan menuruni tangga terakhir. Menatap wajah Jiyong yang mulai menegang.

“apa?” ujar Jiyong yang makin penasaran.

“kau telah mengubah masa lalumu dan tentu saja masa depanmu pun ikut berubah” jawab TOP dengan yakin.

“berubah?” Jiyong berfikir sejanak sebelum akhirnya berlari ke arah meja di sudut ruang, menatap undangan pernikahannya yang masih sama. Tak ada nama Sohee di sana, ya… masih nama Sandara yang nampak bersanding dengan nama dirinya.

“ini tidak berubah” ujar Jiyong menunjukkan undangannya pada TOP, namun pria itu hanya tersenyum.

“lalu perubahan apa yang kau inginkan?” TOP mengetukkan sepatunya ke lantai dua kali di ikuti gerak jarum jam yang berjalan mundur semakin cepat.

….

 

 

Ia kembali lagi, menerobos ruang waktu yang seolah itu terdengar sedikit mustahil untuknya. Tapi ini nyata dan ia mengalaminya untuk yang kedua kalinya. Jiyong kembali ke masa di mana jarak antara ia dan Sohee semakin jauh. Entah, seperti tak ada perubahan berarti dengan usahanya dulu. Tetap ada jarak yang terbuat di sana. Tetap saja belum merubah takdir yang ia inginkan.

Jiyong menahan tangannya di udara ketika pintu di depannya terbuka. Gadis itu mengenakkan syal warna pastel dengan cardigan senada. Ia menatap Jiyong dengan dingin, sedingin puncak Himalaya yang tetap saja tak mungkin tersentuh oleh Jiyong. Gadis itu mengabaikan Jiyong, mempercepat langkah kecilnya setelah dengan sempurna menutup pintu rumah. Tak ada yang keluar dari bibirnya hanya punggungnya yang seolah meminta Jiyong untuk mengekor di belakangnya.

Sepertinya Jiyong sudah tahu betul apa yang akan di lakukan gadis itu. Memaksanya menerima kenyataan bahwa Sohee telah bersama dengan orang lain. Hal yang dulu berhasil membuat Jiyong mundur untuk memperjuangkan cintanya.

“Ah Sohee berhenti” pinta Jiyong masih menatap punggung Sohee.

“Ahn Sohee kumohon” pinta Jiyong lagi sedikit memaksa. Sohee tetap berjalan, sepertinya ia memilih menuli. Bagi Jiyong tak ada pilihan lain selain ia berlari sekedar menyamai langkahnya dengan Sohee. Menatap mata Sohee yang seolah tak ingin membalas tatapannya.

“Ahn Sohee kumohon” Jiyong menarik tangan Sohee, menatap kedua mata gadis itu yang memerah.

“apa kau ingin mengenalkanku dengan kekasihmu? Apa kau ingin aku menghilang dari kehidupanmu? Apa – apaan ini?         apa yang membuatmu ingin menghapusku?” tuntut Jiyong menarik paksa gadis itu untuk menatapnya. Sohee tersentak sepertinya isi otaknya memang terbaca tepat oleh pria di hadapannya. Tapi tetap saja Sohee tak mampu mengucapkan apapun, ia hanya memilih menghindari tatapan Jiyong yang semakin menyiksanya.

“berhenti mencintaiku Jiyong sshi, kumohon?” Sohee akhirnya terisak, ini untuk pertama kalinya gadis itu menangis di depan Jiyong. Tangis terluka miliknya yang tertangkap sempurna di pendengaran Jiyong untuk pertama kalinya. Jiyong tertegun tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun untuk membalas permintaan Sohee.

“Ahn Sohee”seru seorang pria berlari cemas ke arah Sohee, ia menatap Jiyong sebentar lalu fokus lagi menghapus air mata Sohee.

Ia tak dapat melalukan apapun, perasaan Jiyong tercampur aduk bak adonan kue yang sering ibunya buat diakhir pekan. Ia hanya mampu menatapnya, menatap gadis yang ia cintai berada dalam pelukan pria lain. Bola mata yang sesaat bertemu, kelopak mata yang basah dan terluka.

“dia kekasihku Lee Junho” ucap gadis itu tertahan.

…………

Jiyong terhuyung pelan, andai saja tak ada Taeyang di sisinya munggkin ia akan terjatuh ke arah meja kaca di sisinya. Taeyang menatap Jiyong cemas, ia menggoyang – goyang tubuh pria itu pelan.

“apa yang terjadi padamu? Apa kau tidak apa – apa?” tanya Taeyang khawatir. Jiyong berdiri sempurna sekarang, sepertinya tulang kakinya mulai mampu menyangga tubuh kurusnya lagi.

“Jiyong ah…” panggil Taeyang lagi. Jiyong memegang pundak Taeyang lalu tersenyum nanar.

“aku tahu, ayo kita pergi” ujar Jiyong dengan tangan gemetar.

Di sudut ruang TOP berdiri menatap Jiyong, ia tersenyum tipis ketika ekor matanya menangkap tubuh kurus Jiyong yang nampak lemah.

“masih ada satu kesempatan lagi, apakah kau masih ingin mengubahnya? Ataukah ada hal lain yang tiba – tiba menyelinap dalam otakmu?” Tanya TOP pada Jiyong, satu – satunya orang di ruangan itu yang dapat mendengarnya.

Memang ada sesuatu yang menyelinap dalam otak Jiyong, sesuatu yang ia sadari ketika suara Sohee masih terdiam di ruang telinganya. Sesuatu yang baru untuknya, suara terluka yang ia sadari terdiam di sana. Ada sesuatu di kedua mata Sohee, sesuatu yang benar – benar melukai hati gadis itu.

Jiyong menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah TOP dan menatapnya dengan yakin. “aku mengambilnya, kesempatan ketiga itu” ucap Jiyong mantap.

 

Kembali ke masa apa jiyong sekarang? Ke masa yang tentu saja ia sadari ia menginginkannya. Hal yang mengganggu hatinya, hal yang menggoyahkan hatinya, hal yang ia sadari ia merutuki telah mengabaikannya. Sesuatu yang selalu ia yakini ia sudah melupakannya tapi salah, ia tak bisa melupakannya dan masih terkurung dalam belenggunya.

Sandara menggelayut di lengan Jiyong, ia terlihat gembira ketika menatap deretan cincin di etalase toko perhiasan yang mereka kunjungi. Jiyong hanya tersenyum tipis, ah bukan…. ia benar – benar memaksakan senyuman sekarang. Menatap gadis yang telah Jiyong bohongi hatinya, sesuatu yang selalu Jiyong yakini ia sanggup menatapnya. Ia tak lagi fokus pada Sandara, gadis cantik yang tertawa ringan seolah dunia mulai direngkuh oleh pelukannya. Tatapan Jiyong beralih pada ujung jalan, dimana untuk pertama kalinya ia mulai ragu akan pernikahannya. Kemana hatinya bermuara, kemana hatinya terhenti. Ia selalu menyakini Sandara adalah yang terakhir ujung hatinya, tapi semua salah. Muaranya hanya pada Sohee, ujung hatinya sudah tertancap lama di sana.

Jiyong menatap jam tangannya, memastikan diri bahwa sebentar lagi mobil Porche hitam yang ia tahu pasti membawa Sohee itu berhenti di seberang jalan. Baginya tak harus mengisahkan lagi seperti apa pertemuannya dengan wanita itu. setelah hampir mungkin delapan tahun ia memilih mengasingkan nama itu dari otaknya. Gadis itu keluar, mengenakkan cardigan warna pastel dengan rambut tergerai. Siluet sisi wajah yang sama ketika dulu ia menangkap sosoknya. Mungkin saja hatinya beregetar seperti dulu tapi keputusannya tak sama lagi, ia tak ingin menyesalinya.

“menurutmu,bagaimana dengan yang….”

“bisa kau tunggu di sini sebentar? Aku akan kembali” Jiyong memotong ucapan Sandara, pria itupun mengabaikan tatapan heran Sandara dan memilih berlari tergesa keluar toko.

Jiyong mengikuti jejak langkah wanita itu meski hanya mengekornya dari jauh. Menikmati goyangan rambutnya yang sesekali terbentur pundak eloknya yang berjalan. Jiyong merindukannya, tak peduli sosok Junho masih bersisihan di gadis itu. Ia banyak berubah, senyumnya tak hangat lagi. Kedua matanya sedikit menyekung menyiratkan bayangan gelap di bawah matanya. Yang Jiyong yakini gadis itu tak sama lagi.

Jiyong menghentikan langkahnya, tatapannya terhenti pada sosok Sohee yang duduk di sebuah kursi. Junho nampak khawatir, ia mengelus punggung tangan Sohee lembut seolah mencoba menguatkan gadis itu. Pria bernama Junho itu beranjak, mengobrol sebentar dengan Sohee lalu meninggalkannya.

Kesempatan, yah Jiyong memilikinya. Sebuah keajaiban ia dapat menatap sayup mata itu lagi. Langkah pria itu terjejak pasti, menatap sedih gadis di hadapannya. Membiarkan mata sipit itu mencoba membulat penuh mengisi bingkai matanya. Mereka tak mengucapkan sepatah katapun, hanya kata rindu yang tersampai dari getaran tatap yang mereka miliki.

“Ahn Sohee sshi, katakan padaku kebohongan apa yang kau simpan padaku?” suara Jiyong bergetar. Gadis itu ingin mengabaikannya, memilih beranjak tapi kakinya terlalu lemah untuk berdiri.

“kumohon berhenti mengabaikanku” seru Jiyong berhambur memeluk tubuh ringkih Sohee, memaksa mata cekung itu bekerja lebih keras karena ia sekarang menangis.

Jiyong merapatkan pelukannya, menuntaskan rasa rindu yang telah mengerak di hatinya. Tak peduli semua orang menatapnya dan tak peduli air matanya terus mengucur dan membasahi pundak Sohee.

“Ahn Sohee aku mencintaimu, sama seperti dulu dan tak akan pernah berubah. Aku benar – benar mencintaimu”

………..

Jiyong duduk di sebuah kursi, masih mengenakan jas lengkap seperti sebelumnya hanya bedanya sebuah cincin melingkar di jari manisnya. Tatapannya masih kosong, mengabaikan beberapa orang yang berlalu – lalang di depannya. Taeyang berjalan pelan, gurat wajahnya nampak sedih menatap Jiyong. Pria itu menepuk pundak Jiyong hangat, duduk diam di sisinya berharap Jiyong merasakan dukungannya.

Jiyong tahu apa pilihannya, ia tahu pasti kehidupan seperti apa yang akan ia pilih. Ia memang tak jadi menikah dengan Sandara, suatu keputusan bagus yang ia pilih. Hanya saja ia pun tak bisa hidup lama bersama Sohee. Wanita itu terjatuh dalam pelukannya ketika nafasnya terhembus untuk terakhir kalinya.

“apa ini yang kau pilih? Apa kau tak menyesal? Sejak awal ia memilih meninggalkanmu untuk kebahagianmu. Ia tahu penyakitnya tak akan bisa di sembuhkan, bibit monster yang di namakan kanker telah menggerogoti pankreasnya dan dia hanya ingin kau bahagia” ujar TOP yang tiba – tiba berdiri di depan Jiyong. Jiyong mengangkat dagunya, sekelebat moment indahnya tercipta di lapisan bola matanya.

Jiyong berdiri di altar, senyumnya terkebang ketika menatap jemari cantik yang menggenggam erat tangannya. Dia Ahn Sohee, nampak cantik. Dandanan minimalis yang justru mempertegas auranya. Cincin yang sebelumnya Jiyong ragu untuk memasangkan di tangan Sandara telah tersemat di sana. Di jari manis gadis pujaannya itu, gadis yang tentu saja sangat ia cintai. Sohee menatap Jiyong tersenyu simpul, senyum penuh arti yang menyiratkan ia bahagia.

“aku tak menyesal” ujar Jiyong mantap kepada TOP “jikapun waktu terulang lagi dan bergulir dengan kisah yang sama, aku akan tetap memilihnya. Berjuang untuk lebih awal menemaninya” lanjut Jiyong mantap.

TOP terkekeh, sebuah senyum tercipta di sudut bibir pria itu.

 

Kelopak mata Jiyong mengerjap pelan setelah ia benar – benar yakin seseorang telah mengguncang kedua pundaknya. Ruang diantara alisanya itu membentuk lipatan yang hampir menyatukan kedua ujung alisnya. Ia menggerakkan pelan kedua tangannya yang kaku, seolah ia melewati lagi lorong gelap itu dan melepmarnya.Jiyong  Mengucek kedua kelopak matanya yang masih ingin terkatup.

“Kwon Jiyong pelajaran sudah berakhir satu jam yang lalu apa kau tak ingin pulang?” suara  gadis yang berhasil membangunkan Jiyong dari imajinasinya. Seperti takjub bahwa pria itu mendengar getar suara itu lagi di rongga telinganya. Suara yang mungkin saja seperti sebuah ilusi.

“Kwon Jiyong ayo bangun” seru gadis itu lagi.

“Ahn Sohee” gumam Jiyong tak percaya. Pria itu mematung, kali ini ia benar – benar takjub. Apakah ini mimpi atau ini permainan Tuhan? Ia tak peduli.

“Ahn Sohee, aku mencintaimu” isak Jiyong menghambur kepelukan Sohee.

FIN

 

                ‘jikapun waktu terulang lagi dan bergulir dengan kisah yang sama, aku akan tetap memilihnya. Berjuang untuk lebih awal menemaninya’ – Kwon Jiyong

Iklan

Satu respons untuk “The Third Opportunity

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s