Nothing ( Vignette )

Cast : Kwon Jiyong, Ahn Sohee, Choi Seunghyun

Genre : Romance, Life, Angst || Rating : PG – 15 || Lenght :Vignette

Author : Dindonline || Disclimer : Nothing & The Man Who Can’t be Moved by ‘The Script’

Intro : Disarankan ketika membaca untuk mendengarkan lagu The Script ‘Nothing’

Srekk

Gorden berwarna abu – abu itu tersingkap pelan, membiarkan batangan – batangan sinar pagi yang sedari tadi tertahan benang – benang halus terpilin itu menerobos kamar. Seolah seperti jarum – jarum tipis yang siap menghujam sesosok tubuh yang masih terpekur dengan selimut putih tulangnya yang kusut. Tangan pria itu terangkat, menahan cahaya tipis yang sekarang mulai menganggu air mukanya.Keningnya terkerut, matanya mengerjap pelan. Membiasakan indera penglihatannya itu. Entah ia sudah sadar, entah ia masih bereuforia. Hanya saja kepalanya masih terasa sangat berat. Matanya menangkap sesosok tubuh yang tersiluet sempurna oleh barisan sinar. Bayangan rambutnya panjang, lekuk tubuhnya ramping.

oppa, sampai kapan kau akan tidur? Ayo cepat bangun!” kening pria itu semakin terkerut. Menangkap gelombang suara yang menggetarkan selaput gendangnya.

oppa!!” seru gadis itu menarik selimut Jiyong. Kesadarannya perlahan terbentuk, bola mata yang sedari tadi hanya menangkap siluet itu membulat.

Terkejut

Ya, ia benar – benar terkejut. Beberapa kali kelopak matanya mengedip, bukan untuk membasahi bola matanya yang serasa mengering hanya saja meyakinkan diri indera penglihatannya berfungsi dengan baik. Ia segera bangkit, duduk di pinggiran tempat tidurnya. Masih tak lepas menangkap tingkah polah gadis itu.

“apa semalam kau minum – minum oppa? Sudah kubilang terlalu banyak minum tak baik untuk kesehatanmu” gadis itu memunguti botol – botol minuman keras yang berserakan di lantai dan meja. Jiyong berdiri, tatapannya nampak sayu.

“aish, kenapa banyak sekali pakaian kotor di sini oppa? Seharusnya kau letakkan di keranjang dekat kamar mandi” Jiyong masih terdiam, ia menjejakkan langkahnya setapak. Membiarkan matanya mengawasi gadis itu memunguti pakaian kotornya.

“apa kau sekarang berubah menjadi pria malas oppa?” gadis itu menoleh, senyumnya tersungging tipis. “baiklah aku akan mencucikan piring – piring ini untukmu” ia menarik lengan bajunya. Tangannya dengan lincah menangkap helaian rambutnya yang bebas, mencengramnya lalu menahannya dengan sebuah simpul. Membentuk sebuah sanggul kecil di kepala.

Jiyong masih menamatinya, menatap punggung gadis itu yang nampak tergerak pelan. Kedua mata itu mulai tergenang, kaki telanjangnya terseret pelan.

“cepatlah mandi aku akan_”

chagiyaa” suara serak pria itu menggema, merengkuh tubuh gadis itu dalam pelukkannya.

“kau kenapa?” gadis itu terkejut. Jiyong menempelkan kepalanya di pundak Sohee, membiarkan isak tangisnya berbaur dengan suara kucuran air keran di dapur.

Jiyong terbangun, entah sudah berapa lama ia tergeletak seperti mayat di tempat tidurnya. Seprei kotak – kotaknya pun sudah tak terpasang rapi pada tempatnya. Tatapannya datar, ujung matanya terbias kesedihan yang sangat dalam. Jemari tangannya menggenggam erat bingkai foto yang terpeluk dalam dekapannya. Menghela nafas sebentar, mengusap pelan ujung matanya yang berair. Meletakkan bingkai foto itu di sisinya lalu bangkit.

Kesedihan, terluka dan hampa.

Jiyong merasakannya, nampak terbias sempurna oleh keadaan apartemen miliknya. Gelap, sudut – sudut bayangan prabotnya terbentuk epik di lantai. Terisi oleh beberapa botol kosong minuman keras. Beberapa helai pakaian kotor, sisa mie instan dan entahlah ia sepertinya mulai terbiasa dengan hewan – hewan kecil teman sekamarnya sekarang.

Ctik

Bayangan Jiyong terpantul di depan kaca di hadapannya, sekedar mengusapkan air bening yang terkucur di keran. Desahannya pelan, menciptakan uap yang berhasil memburamkan pantulan wajahnya. Seperti tak ada kehidupan, rambut coklat yang entah sudah berapa lama tak berteman dengan wangi shampoo. Ponselnya berdering, berhasil membuat pria itu menoleh. Menyeret kakinya dengan malas ke arah ruang utama. Tak lama setelah ia membaca pesan itu bel rumahnya berbunyi. Tak perlu untuk berfikir lama, ia sudah tahu pasti siapa yang berada di balik pintu apartemennya.

Jiyong membuka sedikit pintu itu, menunjukkan separuh tubuhnya pada sang tamu. “aku sedikit mengkhawatirkanmu, apa kau baik – baik saja?” Seunghyun menoleh, memutar tubuhnya menatap Jiyong.

“aku baik – baik saja” sahut Jiyong membuka lebar pintunya. Membiarkan Seunghyun mengekor di belakangnya.

“baik?” Seunghyun menautkan alisnya, menatap tiap sudut apartemen Jiyong yang nampak tak baik – baik saja.

“ya” sahut Jiyong menyalakan lampu rumahnya, menendang sedikit pakaian kotor yang menghalangi jalannya. “duduklah” lanjut pria itu menuju kamarnya

Seunghyun melipat tangannya di dada, nampak tak berminat duduk di sofa yang sudah tak menyisakan tempat untuknya.

“apa kau benar – benar_”

“ayo” potong Jiyong yang sudah mengenakan mantel coklat kusam miliknya. “kemana?” Seunghyun menatap sahabat di hadapannya dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“bar” jawab jiyong singkat.

“tapi…”

“kau benar, hanya dengan minum aku dapat melupakannya” sahut Jiyong berlalu keluar.

….

Sohee memutar tubuhnya, menatap bingung pria di hadapannya sekarang. Membiarkan tangan kasar itu sedikit menekan pipi tambunnya. Keningnya terkerut, menatap ujung – ujung mata yang terbasahi oleh air.

oppa, kau kenapa?” ujung – ujung jari gadis itu mencoba menghapus air mata Jiyong. Pria itu melepas tangannya pada pipi Sohee. Kakinya terdorong beberapa langkah ke belakang.

Ini nyata?

Tapi entahlah sepertinya Jiyong tak peduli bahkan jika ini mimpi atau ilusi yang ia bentuk sendiri ia tetap berharap hidup dalam impiannya. Gadis itu berdiri di hadapannya dan tubuhnya hangat, suaranya sama dan selalu berhasil menggetarkan jantungnya.

oppa apa kau baik – baik saja?” Sohee nampak khawatir.

Jiyong mengabaikkan segala tanya dalam benaknya, mengabaikkan rasa takutnya juga mengabaikkan segala kenyataan yang mungkin akan ia terima. Gadis itu menarik tangan Jiyong dan menuntunnya ke arah meja makan. Mendudukkan pria dengan wajah pucat pasi itu di kursi.

“kau tunggu di sini oppa, aku akan mengambilkan air” gadis itu beranjak pergi.

“Ahn Sohee” panggil Jiyong dengan suara gemetar. Gadis itu menghentikan langkahnya. “ne” sahut Sohee menoleh ke arah Jiyong.

….

Membiarkan cairan itu terteguk, menyusur melalui kerongkongannya. Membakar tiap dinding saluran pencernaan itu, ia menyukainya. Menyukai tiap sensasi yang tercipta ketika cairan itu mulai menguasai kontrol atas pikirannya. Tertawa, meski ia tahu sebenarnya ia ingin menangis. Mencoba mencari bahan pembicaraan dengan beberapa orang di sisinya. Minuman akan membuatmu lupa, seolah kehampaan itu terisi cairan dengan bau menyengat. Ia mencintainya, tapi itu tak berarti. Ia merindukannya, itupun juga tak berarti. Ia menangis dan tersudut di sudut kota itupun juga tak berarti.

Sisi pipi Jiyong tertempel di meja bar, menatap beberapa gelas kecil di depannya yang nampak mengabur. Tangannya bergerak mencoba menuang cairan itu ke dalam gelas.

“sudah cukup Jiyong ah, ayo kita pulang” Seunghyun mengambil botol di tangan Jiyong, meletakkan botol itu jauh dari jangkauan sahabatnya.

“maaf jika aku membuatmu seperti ini” lanjut Seunghyun menyesal, menatap khawatir pada sahabatnya itu.

Jiyong terkekeh, menepuk pundak Seunghyun pelan. “untuk apa kau minta maaf, ini semua bukan salahmu” gumam Jiyong. Seunghyun mendesah, menarik tangan Jiyong pelan. “ayo kita pulang” ajak Seunghyun.

Pria itu menggeleng, menahan tangan Seunghyun yang ingin menariknya. “ani, aku tak ingin pulang. Antarkan aku ke rumahnya, aku merindukkannnya”  geleng jiyong keras.

“apa yang oppa katakan?” Sohee menggenggem tangan Jiyong, membuat pria itu menunduk menatap tangannya. “aku tak akan meninggalkanmu oppa?” Jiyong mengangkat wajahnya, tatapan wajahnya sedikit mendamai.

“aku tak akan pernah meninggalkan oppa, aku tumbuh di sini. Tersimpan di sini, di hati oppa” Sohee meletakkan tangannya di dada Jiyong yang berdetak hebat. Mengunci tatapan kaget Jiyong pada gadis itu.

Sohee masih bersimpuh, meyakinkan ucapannya pada pria itu. Cukup lama mereka saling tatap, Jiyong merasa familiar dengan ucapan Sohee. Gadis itu bangkit, menghela nafas pelan.

oppa mandilah, aku akan menyelesaikan cucian ini dulu. Em?” pinta gadis itu, ia mengusap rambut kotor Jiyong dengan sedih. “rambutoppa  harusnya tak sekotor ini” gumam gadis itu. memaksa Jiyong mengangkat kepalanya menatap wajah Sohee di depannya.

Mobil Seunghyun menepi, Jiyong terlihat keluar. Pria itu merapatkan mantelnya, memilih menyusuri trotoar malam itu dengan kenangannya. Uap tipis nampak keluar masuk dari mulutnya ketika ia bernafas. “kenapa kau berjalan sendiri? Aku akan menemanimu” seru Seunghyun yang setengah berlari.

Kedua pria itu terlihat tak saling bicara, Jiyong memilih terlarut dengan kenangannya dan Seunghyun mencoba memahami isi hati sahabatnya. Langkah mereka terhenti di depan sebuah komplek apartemen. Menatap sudut yang sama, meski tak lama Seunghyun memilih menamati ekspresi wajah temannya. Apartemennya nampak gelap, sama ketika Jiyong terakhir mengunjunginya. Hanya seperti itu dan Jiyong cukup puas.

“ayo pergi” ajak Jiyong dengan langkah yang masih sedikit terhuyung.

“kau tak apa – apa? apa kau baik – baik saja?” tanya Seunghyun khawatir. Jiyong mengangguk pelan.

Kedua pria itu berjalan beriringan diselingi suara teriakan kecil Seunghyun yang kedinginan. “Jiyong ah tunggu sebentar” Seunghyun menahan langkah Jiyong, pria itu menatap Seunghyun datar. “aku ingin membeli sesuatu dulu di sana” lanjut pria itu menunjuk mini market di seberang jalan. Jiyong menoleh, menatap arah telunjuk Seunghyun lalu mengangguk pelan.

“kau tak ikut? Di luar dingin sekali” Jiyong menggeleng, diikuti desahan pelan Seunghyun. “baiklah kau tunggu di sini sebentar, aku tidak akan lama” lanjut pria tegap itu berlari kecil.

Sesuatu yang sangat ia sesali adalah membiarkan gadis itu meninggalkannya. Menatap air muka kekasihnya yang tersenyum untuk terakhir kalinya. Bulir tipis itu mengalir, ia tak mampu bangkit. Sebesar apapun ia berusaha untuk melupakannya dan bangkit, Jiyong tahu pasti ia tak mampu. Gerak kaki Jiyong menjejak pelan, melangkah setapak ke arah jembatan tak jauh darinya. Dadanya sesak tak mampu bernafas, hidupnya perlahan mulai tak berarti lagi. Tujuan hidupnya menghilang dan dia tak tahu kemana harus berjalan.

Jiyong naik, menjejakkan kaki pastinya pada campuran semen dan pasir di sisi jembatan yang mengeras. Ujung sepatunya tergeser ke depan, ujung matanya menatap pasti apa yang akan menyambutnya. Terlalu mencintai gadisnya, itu yang ia tahu.

Jiyong keluar dari kamar mandi, rambutnya basah. Ujung – ujung rambut itu menetes pelan membasahi pundaknya. Sohee tersenyum, menyambut pria di depannya dengan sebuah handuk. Jiyong menunduk, membenarkan posisinya kepalanya. Tubuhnya sedikit merapat pada Sohee.

oppa kau akan baik – baik saja kan?” tanya Sohee pada pria yang nampak menikmati aroma tubuh Sohee. Jiyong terkaget, ia akan mengangkat kepalanya tapi Sohee menahannya.

“jangan seperti itu, membiarkan hidupmu yang baik menjadi kacau” lanjut gadis itu dengan sedih. “aku baik – baik saja dan berharap kau pun seperti itu” suara gadis itu mulai bergetar.

“apa aku meminta kecelakaan itu terjadi? Meski kecelakaan itu terulangpun aku akan tetap memilih menyelamatkan dirimu” Jiyong menangkap lengan Sohee. Mengangkat kepalanya menatap tajam pada Sohee.

“jangan katakan apapun, kumohon tetaplah disisiku” pinta Jiyong berharap gadis itu menghentikan ucapannya.

oppa…” suara Sohee bergetar.

“aku suka senyummu, jadi selalu tersenyumlah. Aku suka wangi rambutmu, jadi jangan membiarkannya kotor terlalu lama. Aku tak suka melihat kau minum, berhentilah demi aku. Oppa..”  Jiyong menggeleng keras, ia tahu pasti jika kata itu terucap Sohee akan meninggalkannya lagi seperti sebelumnya.

oppa, kumohon hiduplah dengan baik” Sohee mencoba menyergap tubuh Jiyong tapi ia menolaknya.

….

Byur

Tubuh Jiyong terhempas ke air, cairan dingin yang seperti ribuan jarum menghujam seluruh tubuhnya.

‘Ahn Sohee kenapa kau meninggalkanku’ batin pria itu, tatapannya membeku. Gadis itu berada dalam jangkauannya sekarang. Tersenyum seolah menari bersamanya dalam kebekuan air yang dapat membunuh mereka.

Jiyong terduduk di lantai, tatapannya kosong. Jika ilusi ini lebih baik dengan mempertemukannya dengan Sohee, ia memilihnya. Hidup dalam ketidak pastian yang mungkin seperti kehidupan nyatanya. Jiyong menikmatinya, meski ini tak nyata asal bersama Sohee. Sohee terisak, ia duduk bersimpuh di depan Jiyong. Mendekap pria itu dalam pelukkannya.

oppa, kau ingat apa yang aku ucapkan padamu?” Sohee melepas pelukkannya, membingkai wajah Jiyong dan memaksa pria itu untuk menatapnya.

“aku mencintaimu oppa” Sohee mengecup bibir Jiyong.

“aku hidup dihatimu, dan akan terus seperti itu” lanjut gadis itu lalu mengecup bibir Jiyong lagi, diiringi anggukan pria itu pelan.

Jiyong mengerjap pelan, menatap Seunghyun yang menguncang tubuhnya dengan panic. Suara sirine ambulance terdengar lantang, beberapa orang pria berbaju putih nampak keluar tergesa membawa alat bantu pernafasan, selimut dan tanggul berwana orange terang. Ia terbatuk, mengeluarkan beberapa cairan sungai yang sempat terminum. Seorang pria memasang masker oksigen pada Jiyong. Ia dibopong masuk ke dalam ambulance dengan setengah sadar, merasakan cairan hangat yang meleleh di pipinya. Ia memegang dadanya, ia tahu Sohee sangat mencintainya.

Fin

Iklan

2 respons untuk ‘Nothing ( Vignette )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s