My King Mafia

My King Mafia

 

Cast : Kwon Jiyong, Ahn Sohee

Support casts : Choi Seunghyun, Nichkhun, Ok taecyeon

Genre : Romance, Action, Life, Sad || Rating : PG – 15 || Lenght :Ficlet (?)

Author & Artworker : Dindonline || Disclimer : berbagai sumber ||Warning : typo dan kegajean bertebaran dimana – mana.

            ‘Kelopak berwarna merah jambu itu terjatuh, terkulai lemas di tanah diikuti genggaman seorang gadis yang mulai merenggang. Jatuh, rangkaian mawar yang sedari tadi coba ia pertahankan. Wajahnya mengaku, uraian bening tersudut di kedua ujung kelopak matanya. Ulasan merah jambu di kedua labianya bergetar, tertahan suara isaknya yang berkumpul di pangkal lidah.’

0o0

Aku selalu dapat melihat jelas rangkaian gambar naga di punggungnya. Membentang dari tengkuknya hingga panggkal pinggang. Tak heran jika beberapa orang selalu memanggilnya dengan Dragon, tapi aku tak peduli dengan itu. Yang aku butuhkan dia ada di sisiku, sekedar tersenyum atau membelai rambutku dengan lembut. Atau merasakan bisikan mesranya yang hangat menyentuh daun telingaku yang memerah.

Aku menyentuh punggungnya, tepat di bagian kepala naga. Dingin juga lembab, bau keringat dengan aroma parfum yang cukup memabukkan. Jiyong menoleh, menampakkan sisi wajahnya dengan ujung bibir yang terangkat.

“ada apa?” suara lembut itu melantun, cukup menyadarkanku ini bukan ilusi semata.

aniyo, kau akan pergi lagi?” tanyaku sedikit ragu. Terdengar sedikit egois, tapi aku tahu pasti jawaban apa yang akan keluar dari bibirnya.

Jiyong bangkit, menyapu pipiku dengan kedua tangannya. Terlampau dingin, tapi bagiku ini cukup hangat. Ujung matanya menyipit, iris mata itu memantul sempurna wajahku di depannya.

“kau percaya aku akan kembali bukan?” bisiknya pelan.

Mata Jiyong terpejam, entah panjatan doa apa yang ada di kepalanya. Ini saja sudah cukup mampu membawaku ke dalam dunianya. Menikmati sapuan lembut daging kenyal miliknya, mana mungkin aku mampu melepas ini. Sebuah sihir yang mampu membuatku terperangkap dalam hatinya yang dingin.

“bos” suara berat milik orang kepercayaan Jiyong terdengar.

Aku sedikit membenci suara itu, suara yang selalu berhasil membuat Jiyong menghentikan buaiannya. Ia menatapku lekat, bola mata yang membulat seolah memaksaku untuk mempercayainya.

“aku menunggumu” gumamku mengecup pipinya yang entah mungkin sedikit menirus.

0o0

            Aku mungkin adalah seorang gadis yang tiba – tiba muncul di kehidupannya. Bukan, mungkin akan lebih terdengar aku ada seekor peliharaan yang ia pungut di jalan. Tapi apa aku peduli soal itu? aku cukup tahu sebesar apa cintanya lewat tatapan intens itu ketika ia merengkuhku. Aku cukup tahu sebesar apa rasa rindunya ketika ia datang dan mendekap tubuhku. Semuanya nampak jelas, lewat cemoohan beberapa gadis penghibur padaku yang tak pernah berhasil menggodanya. Itu tak mengherankan, ia selalu mendekapku dan tak pernah mencoba melepasku menjauh darinya.

Mungkin saja aku sedikit terganggu dengan pria tegap yang selalu berdiri di belakangnya. Tapi bodoh juga jika aku cemburu dengan Seunghyun, bukankah Jiyong pernah bilang bahwa aku segala – galanya untuknya.

Ponselku berdering, sedikit mengganggu acara malasku di kursi kesayangan Jiyong. Tapi gangguan itu tak cukup mampu mengusir senyumanku ketika ponsel itu berdering.

yeobboseo, Jiyong ah” suara kekehan Jiyong terdengar di ujung telpon.

“apa ada yang salah?” tanyaku sedikit heran.

aniyo, suaramu terdengar sekali kau merindukanku” jawab pria itu yang berhasil menciptakan semburat merah di pipiku.

“eh ah, it itu…”

“aku merindukanmu, aku sangat merindukanmu” potong Jiyong yang berhasil membuatku tertegun.

“dandanlah yang cantik, Seunghyun akan menjemputmu” lanjut pria itu. aku mengangguk pelan, meski sudah dipastikan pria itu tak akan melihat anggukkan kepalaku.

saranghaeyo Sohee ah” ujar Jiyong sebelum menutup telponnya.

0o0

            Sebuket mawar berwarna merah jambu sudah bertengger cantik di pangkuanku. Ini sedikit konyol mungkin, Jiyong tak pernah mengijinkanku keluar. Ia mungkin terkesan mengurungku, bahkan lebih condong terlalu posesif. Tapi aku tak peduli, aku menyukainya. Semua perilakunya terhadapku aku menyukainya.

Mobil mercy yang di kendari Seunghyun berhenti di sebuah penginapan mewah. Aku sedikit melongokkan kepalaku ke arah luar, sebuah bangunan indah dengan beberapa pohon pinus menghujam di sisi bangunan bergaya eropa itu. Entah kenapa detak jantungku terpacu, tak seperti biasanya. Ah, bukan. Biasanya jantungku memang selalu tak beraturan bila bertemu Jiyong, senyumnya, rengkuhannya, bisik nafasnya menyapu pori – poriku. Semuanya, selalu berhasil membuat jantungku seolah meledak.

“apakah aku terlihat cantik?” langkah Seunghyun tertahan, ia menoleh ke arahku.

yeppo” ujarnya datar seperti biasanya.

Aku memang tak butuh pujiannya, aku hanya ingin meyakinkan diri aku cukup cantik untuk Jiyong. Pria itu menuntunku, seperti seekor kelinci putih yang menuntun jalan alice ke wonder land.

0o0

            Kelopak – kelopak itu terjatuh, diiringi jatuh sepenuhnya buket bunga yang berusaha kupertahankan. Aku menatapnya, menatap mata pria yang aku tahu betul seperti apa dia. Meski genangan air di pelupuk mata cukup menggangu pandanganku, aku masih bisa membacanya. Dia pria yang cukup aku kenal, ya… harusnya aku cukup mengenalnya.

Dua orang pria yang samar – samar mulai mengapung di memoriku. Mereka menarik paksa Jiyong dan Seunghyun, pria yang mulai mengusik masa lalu yang ingin aku lupakan. Tapi bukan itu yang menjadi fokusku sekarang, Jiyong…. ya pria itu. kami saling tatap lama, lebih intents dari sebelumnya. Aku hafal betul tatapan terluka miliknya, aku hafal betul tatapan maaf di iris matanya.

Ia melewatiku, tapi satu ucapanpun. Hanya membeku diam seolah sudah tak perlu lagi menjelaskan apapun. Seolah baginya ini sudah cukup untuk menjelaskan segalanya.

“apa kau baik – baik saja nona?” salah seorang yang tadi menyeret Jiyong menegurku. Taecyeon, ya itu namanya. Polisi yang menangani kasus kematian kedua orang tuaku.

“apa dia baik – baik saja?” dan juga pria bernama Nichkhun. Kedua polisi yang sekarang aku ingat mencoba menegarkanku ketika aku menemukan kedua orang tuaku meninggal.

0o0

            Ada banyak goresan kisah, ada banyak makna yang tak sanggup terungkap. Garis yang membawaku menjalani kisah yang cukup rumit untuk aku ungkap. Ada banyak luka, tapi banyak pula cinta yang tergores dan membekas di hati. Kwon Jiyong, kau mafia terhebat.

0o0

            “aku yang membunuh kedua orang tuamu” gumam Jiyong dari balik bilik kaca di depanku. Kata yang mungkin terlontar ringan dari mulutnya, ucapan yang cukup tak singkron dengan sayup sinar matanya yang menyekung.

“hanya itu?” pertanyaan yang aku tahu pasti cukup sulit untuk aku lontarkan.

“ya, pergilah” sahutnya beranjak pergi dari kursi kayu yang sedari tadi ia duduki.

Sedikit menyakitkan. Bukan, sangat menyakitkan mendengar sikap acuhnya itu. bukan kata itu yang ingin aku dengar, bukan pula kata maaf yang ingin aku minta. Hanya saja, kenapa ia melakukannya? Memungutku, mereungkuhku, bahkan mengucapkan berkali – kali kata cinta ketika kita bersama.

“aku bukan pria baik” gumamnya sebelum benar – benar menghilang.

Bodoh, aku cukup tahu dia bukan pria baik. Dia orang dibalik semua kegiatan hitam di kota Seoul. Dia orang yang sangat menakutkan dan berhati dingin. Tapi bukan hal itu yang menggangguku, sikap hangatnya yang seolah seperti mentari pagi bagiku. Cintanya yang begitu dalam padaku, yang manakah Jiyong yang sebenarnya?

0o0

3 tahun yang lalu.

 

Hujan mulai turun, jatuh membasahi seluruh lapisan kulit yang terabaikan. Aku memang masih berkutak dengan kekosongan. Mencoba mempercayai bahwa semuanya adalah mimpi yang tak perlu aku alami. Tetesan air yang cukup mampu menyamarkan air mata yang entah sudah berapa banyak terkuras.

Aku meringkuk di sudut gang, memeluk lutut yang mulai menyeri. Mencoba bertahan meski rasanya kematian itu lebih baik. Sebuah cahaya menyorot diikuti berhentinya sebuah mobil. Seorang pria keluar, ia melepas jas yang ia kenakan. Menyelimutkan ke tubuhku dan mendekapnya. Aku menatapnya, meski wajahnya sepenuhnya basah ia menatapku dengan sangat khawatir.

“percaya padaku, aku akan melindungimu” ujarnya pelan menuntunku ke dalam mobil.

Yah, sejak saat itu aku memeprcayainya. Kedua matanya tak pernah bohong, kedua mata yang sanggup aku baca.

FIN

~ saya menyadari ini endingnya nggantung banget, maklum ide muncul tiba – tiba pas lagi tiduran di kamar. jadi mian kalo sedikit kecewa. khamsahamida ~

Iklan

3 respons untuk ‘My King Mafia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s