My King Mafia Sequel

my-king-mafia

My King Mafia

~ Kwon Jiyong Side ~

She is my Queen.

 

Cast : Kwon Jiyong, Ahn Sohee

Support casts : Choi Seunghyun, Nichkhun, Ok taecyeon

Genre : Romance, Action, Life, Sad || Rating : PG – 15 || Lenght :Ficlet (?)

Author & Artworker : Dindonline || Disclimer :

 

 

            Pertama kali aku melihatnya musim semi beberapa tahun yang lalu. Mocong senjataku tepat tertuju pada kepalanya. Seharusnya timah panas itu sudah tertanam di sana, memutus segala urasannya di bumi. Tapi aku menahannya, gerakkan jemari yang seharusnya dengan yakin menarik pelatuk itu. Wajahnya nampak biasa saja, hanya senyumnya yang terbias deretan cahaya pagi itu berhasil menghujam jantungku. Helai rambutnya tergoyang, melambai seolah mengajak jantungku untuk semakin kencang terpacu.

Di dunia ini, itu pertama kalinya aku sedikit meragu. Harusnya hanya perlu beberapa detik saja pekerjaan ini selesai tapi aku menahannya. Harusnya aku tak melihatnya, ia benar – benar membangkitkan rasa egoisku untuk memilikinya.

“kita pulang” perintahku pada Seunghyun yang tentu saja menatapku sedikit heran.

Aku menurunkan senjataku dan aku tidak peduli dengan tatapannya. Ada rasa aneh yang sangat mengusik, tak peduli aku berusaha mengabaikannya aku semakin yakin aku menginginkannya.

0o0

            Namanya Ahn Sohee, putri tunggal seorang pria yang pernah membunuh kedua orang tuaku. Apakah aku tak boleh memilikinya? Bahkan jika kedua orang tuanya mencium kakiku beberapa kali untuk memohon? Aku tetap menginginkannya. Sekedar hanya memegang kulitnya yang halus dan putih itu, aku tetap menginginkannya.

“rasanya dunia mulai terbalik, bukankah dengan cara seperti ini kau merendahkan ayahku?” aku mengarahkan moncong rangkaian besi itu ke kepala Tuan Ahn. Melihatnya menangis sambil memohon seperti sebuah kepuasan yang tak ada duanya.

“hanya dengan ini aku bisa memiliki putrimu, terima kasih sudah menjaganya dengan baik”

Dua peluru keluar dari moncong senjataku, diikuti percikan api dan suara bising sebelum benda keras itu menghujam kedua orang yang beberapa menit lalu memohon padaku. Selesai, cairan merah kental itu keluar dari lubang yang kubuat. Aroma sedikit amis yang mulai menyeruak mengisi ruangan.

Tak perlu menunggu lama lagi, orang yang berhasil membuatku terperosok dalam dunia hitam telah kutuntaskan urusannya. Ujung bibirku sedikit terangkat ketika dengan yakin aku keluar dari rumah itu. Diikuti Seunghyun dan beberapa anak buahku, hanya tinggal satu yang harus kulakukan. Memilikinya, yah… aku harus memilikinya.

0o0

            Gadis itu meringkuk, tatapan terlukanya sama seperti yang kumiliki dulu. Nafas kehilangannya nampak berbaur dengan udara kamar yang seharusnya terisi aroma lavender itu. Kain sutra yang membalut tubuhnya tak cukup mampu menyamarkan gerak pundaknya yang terisak.

“semuanya pasti baik – baik saja” ujarku duduk di pinggiran tempat tidur.

Ia bangkit, sekedar menghapus air matanya lalu menatapaku. Aku tersenyum simpul, sekedar menampakkan pesona yang mungkin dapat sedikit membiusnya.

“Kwon Jiyong” entah kenapa aku ingin berusaha bersikap hangat padanya. Menyodorkan tangan kananku yang melingkar beberapa cincin ke arahnya. Ia tak beranjak, masih tetap menatapku dan mengabaikan tanganku yang tersodor ke arahnya.

“baik, kau mungkin masih butuh sendiri” sedikit tidak baik mungkin bila aku terlalu memaksanya. Ah bukan, bila aku terlalu memaksakan diri mengenalnya. Aku memilih beranjak, sedikit menghembuskan nafas kecewa tak sanggup menarik perhatiannya.

“mereka pergi, mereka meninggalkanku sendiri” Sohee menyergap tanganku yang akan beranjak pergi. Ia menangis lagi, isakkan yang tentu saja berhasil membuatku terluka.

“kau memiliki sekarang, kau tak sendiri”

0o0

            Sepertinya ia begitu menyukai rangkaian tatto yang terukir di punggungku. Ia selalu menjelajahkan jemarinya di sana. Menyentuhnya dari kepala hingga ekor naga, seolah tak pernah bosan mengagumi rangkaian itu.

“ada apa?” rasa khawatir di ujung jemari yang terjejak di punggungku itu cukup terbaca olehku.

aniyo, apa kau akan pergi?” nada egois miliknya terdengar lagi. Sejujurnya aku menyukainya, menyukai rasa egoisnya terhadapku.

Aku menoleh, tersenyum simpul memandangnya. Menatap rambut panjangnya yang setengah basah. Menikmati pipi putihnya yang selalu kusukai. Aku beranjak, menyapukan jemari dinginku ke kedua pipi tambunnya. Menatap lapisan irisnya dengan intens, aku yakin aku memang benar – benar menyukainya.

“kau percaya aku akan kembali bukan?” bisikku pelan padanya.

Bibir munggilnya itu memang selalu menggodaku untuk menyapunya. Sekedar mencoba membantu meruntuhkan kekhawatirannya ketika dunia kejam yang kugeluti memanggilku. Tak akan kusesali jalan yang telah kuambil, meski kenyataan yang seperti bom atom itu mungkin akan meledak begitu saja.

Hal yang aku takutkan ia mengetahui segalanya. Siapa sebenarnya majikan baik yang memungutnya di jalan. Entah kenapa rasa manusiawiku selalu tercipta untuknya, rasa yang seharusnya terkubur dan menghilang.

“boss” suara Seunghyun lagi. Dia memang selalu mengganggu tapi memang itulah pekerjaannya.

Aku menatap lagi ciptaan Tuhan yang sangat aku kagumi ini. Hal berharga yang seakan tak ingin aku lepaskan.

“aku menunggumu” suara uniknya itu melantun sejurus kecupan hangatnya mendarat di pipiku.

0o0

            Sudah kukatakan aku membawa bom waktu. Yang jika meledak akan menghancurkanku dan Sohee seketika. Bom yang tentu saja mempora – porandakan jalinan tali yang susah payah kupilin. Aku tak menyalahkannya, aku hanya ingin menyalahkan kedua orang tuanya yang menciptakan situasi seperti ini. kenapa setelah beberapa tahun aku menatapnya lagi? Air mata itu dan aku sangat membencinya, aku hanya berusaha tak membuatnya menangis.

Hal yang sudah aku putuskan mungkin menjauhinya. Itu lebih baik, akan sangat buruk bila seseorang yang telah membunuh kedua orang tuanya adalah pria yang hampir setiap malam mengunjungi kamarnya. Benar – benar buruk, ini bahkan lebih buruk ketika aku dulu menyadari siapa pembunuh kedua orang tuaku. Aku memang tak pantas menjelaskan apapun padanya. Akan sangat memalukan bila aku masih mencoba mengharapkannya.

Kedua polisi yang sejak dulu mengincarku itu akhirnya berhasil menggelandangku. Tapi bukan itu yang aku khawatirkan, aku dengan mudah bisa menyelesaikan ini. Hanya saja dakwahannya tentang kematian tuan Ahn itu cukup membuatku sedikit terpuruk. Yah,,.. di depan gadis yang kucintai, aku digelandang karena dakwahan atas pembunuhan kedua orang tuanya dan itu benar.

0o0

            “aku yang membunuh kedua orang tuamu” kata itu memang mampu terlontar ringan dari mulutku. Kata yang benar – benar membuat bola mata itu semakin membuatku terluka. Tapi bukankah itu lebih baik? Hal yang tentu saja dapat membuatnya semakin menyadari seberapa buruknya aku.

“hanya itu?” suaranya bergetar.

Lalu apa lagi yang sanggup aku lontarkan? Mengemis ampunannya? Bukan untukku, tapi terlebih untuknya. Seorang pria jahat yang terlihat memanfaatkannya, seorang pria jahat yang dengan kedua tangannya sendiri membunuh orang tuanya. Meski memang aku mencintainya, hal itu akan sangat melukainya.

“ya, pergilah” memang hanya itu yang sanggup aku lontarkan. Mencoba mengakhirnya, agar dia tak semakin terluka.

~ FIN ~

 

_ aku bikin sequelnya (?) tapi GD version, ntar yang terakhir aku bikin Author versionnya. Em,.. mungkin bisa dibilang endingnya. Maaf sudah bikin kalian merasa digantungin, hehehee *senyum evil. Terima kasih sudah mampir *bow_

Iklan

2 respons untuk ‘My King Mafia Sequel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s