Irony

Cast : Ahn Sohee, Kwon ‘GD’ Jiyong || Support Cast : Kiko Mizuhara, Kim Heechul ||

Genre : Romance || Rating : G || Length : Ficlet (619 Words )

Disclaimer : Terinspirasi ketika mendengar kabar GD dengan Kiko & saya sukses patah hati *lebay

Wanita muda berambut panjang dengan tinggi semampai itu beranjak pergi. Ia melenggangkan hak sepatunya, menimbulkan dentuman kecil di lantai cafe. Aku seharusnya tak perduli, tapi entah kenapa pria di sudut meja itu menarik manik mataku untuk melihatnya. Semenjak kepergian wanita itu dia hanya diam. Menggenggam erat cangkir kopi yang sedari tadi tak menjamah ujung kerongkongannya sekalipun. Dia tetap bertahan, menghela nafas dalam menatap kosong pada pori – pori meja kayu. Ah… apa peduliku? Ini sudah terlampau biasa menatap adegan seperti ini di cafe. Aku hanya perlu diam, tersenyum ketika memberi pelayanan dan mengelap meja ketika pelanggan pergi. Tak usah peduli dengan urusan pribadi mereka dan berusaha mungkin terlihat prima. Jadi ketika mereka pergi, mereka akan kembali lagi dan menambah profit cafe ini. Agar bos mudaku itu tak bosan menunjukkan deretan gigi putihnya.

Brak!!

Pria itu menggebrak meja, membuat sebagian pengunjung  termasuk aku – yang sedari tadi memang mencuri pandang padanya – menoleh menatapnya. Dia berdiri dengan kesal lalu beranjak pergi begitu saja. Dari sudut matanya saja aku bisa menyimpulkan dia benar – benar memendam amarahnya. Tapi sekali lagi, apa urusanku memperhatikan setiap ekspresinya.

“Sohee ya, sepertinya kau bisa membersihkan meja itu” perintah Jia sambil mengerlingkan matanya.

Ini menarik, aku memang sedari tadi ingin ke sini – sebenarnya. Menamati  jejak – jejak pria berambut merah muda dan wanita muda tadi. Menelusuri meja berplitur dengan lap setengah basah, menatap cangkir yang sama sekali tak tersentuh bibir pria itu. Konyol, ini benar – benar bukan gayaku bersikap seperti ini. Ah… apakah karena pria itu pernah menjadi masa laluku? Ya, tentu saja memang seperti itu.

Cuaca memang selalu seperti ini jika bulan Desember, tetap tak akan membuatmu hangat meski kau memakai berdouble – double mantel sekalipun. Syal merah yang aku kenakan pun tetap tak mampu menahan udara tipis dari mulutku ketika aku mencoba membuang udara. Selalu dingin dan selalu membuat lapisan sepatu boatku basah. Atau bisa bunga tipis putih itu mengotori pucuk kepalaku, setidaknya hal itu bisa – sedikit – mendinginkan otakku.

“apakah aku terlihat menyedihkan?”

Aku menghentikan langkah lalu menoleh. Menatap pria itu lagi yang sekarang berdiri sedikit terhuyung. Sebenarnya aku ingin mencoba terlihat tak begitu tertarik terlibat percakapan cukup lama dengan Jiyong. Menatap pria yang menyembunyikan sebagian wajahnya di balik kerah mantel itu selalu membuatku terjebak dalam masa lalu lagi.

“apa kau ingin menertawakanku sekarang?”

Sepertinya kerah mantelnya itu juga seperti syalku. Tak mampu menahan udara tipis yang keluar dari mulutnya.

“dia akan kembali ke Jepang dan memilih meninggalkanku”

Kenapa matanya selalu seperti itu? sudut mata yang tak mungkin kulupakan selama dua tahun kita bersama dulu.

“Kiko bilang tak bisa menjalani hubungan jarak jauh”

Jujur saja aku menyukai model rambutnya sekarang. Warna merah muda dengan potonagn rambut sedikit berantakan. Ia terlihat lebih dewasa, meski kurasa model rambut mohwaknya dulu juga tidak buruk.

“aku meninggalkanmu karena dia, tapi sekarang _” pria itu tertawa hambar. “dia meninggalkanku”

Ah, aku baru mengingatnya lagi. Di sudut cafe itu pula Jiyong mencampakkanku, membuang cintaku begitu saja seolah permen karet yang sudah terasa hambar di dalam mulutnya. Ia mengatakan aku terlalu baik untuknya? Kalimat yang membuatku selalu tertawa bila mengingat itu.

“aku tahu sekarang bagaimana rasa sakitnya”

Aku sekarang hanya mampu menghela nafas pelan. Pria ini memang benar – benar menyedihkan, aku bisa dengan jelas melihatnya hanya dengan gerak tubuhnya saja.

Mobil porche milik Kim Heechul berhenti di sisi jalan. Bos cafe – sekaligus kekasih – ku itu keluar. Senyumnya selalu saja terlihat hangat meski – kau tahu – salju akan terus turun beberapa hari ini. Aku menatap lagi pria menyedihkan itu, sebelum Heechul menarik tanganku pelan.

“bodoh, apakah aku harus peduli dengan keluhanmu sekarang?”

Ucapan yang tentu saja membuat Jiyong membeku. Aku hanya mencoba bersikap seperti yang ia katakan dulu. Dulu aku terlalu baik untukmu, jadi jangan salahkan aku jika sekarang aku berubah menjadi sedikit ‘tidak’ baik padamu – Kwon Jiyong. Fin

Iklan

3 respons untuk ‘Irony

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s