ICU ( Oneshoot )

Cast : Lee Junho & Ahn Sohee

 Support Cast : Ok Taecyeon, Jang Wooyoung, Hwang Chansung

Genre : Romance, Fantasy, Life, Sad || Rating : PG – 15 || Lenght :Oneshoot (2500w)

Author : Dindonline || Disclimer : Percakapan singkat dengan teman author yang seorang perawat ICU.|| Poster : ArtFactory

‘apa harapanmu oppa?’_ Sohee

‘tentu saja umur panjang’_Junho

Suara gelak tawa konstan itu terdengar, selalu memenuhi tiap sudut ruang serba putih ini. bip bip bip bip

Aroma yang selalu menusuk, bukan bau karbol atau beberapa jenis obat – obat yang dapat dengan mudah  ditemui. Ini bau cairan sterilisasi, bau yang sudah begitu akrab dengan syaraf – syaraf penciuman Junho. Kamar – kamar itu tersekat dan ketika ia mengunjunginya ia akan menyadari kehampaan dan keputus asaan di sana. Mereka hidup tapi mereka mati, tak ada kebahagiaan.

Junho menatap jarum jam yang bertengger di dinding kamar perawat. Pukul delapan malam tepat, saat dimana beberapa mili injeksi cairan obat ini menyusur diantara cairan darah di tubuh pasiennya. cairan yang sedikiit menopang hidup mereka yang tak pasti.

Ia melirik ke arah Taecyeon yang masih berkutat dengan status pasien yang harus ia isi, memenuhi kolom – kolom di sisi status yang berisi jadwal injeksi pasien. “Tn. Kim bukan?” tanya Junho memprsiapkan peralatannya. Ia meletakkan  spuit 3cc juga beberapa needle, ia menatap kertas KIO milik tuan Kim sambil meletakkan beberapa ampul cairan bening. Semuanya obat stroke di mana beberapa hari yang lalu pria lanjut itu mengalami anfal.

Prang!!!

Junho menabrak seseorang, terang saja semua benda yang sudah ia siapkan itu terjatuh di lantai. Menatap kesal beberapa ampul cairan yang harusnya masuk ke aliran darah tuan Kim itu meluber di lantai. Junho menatap orang yang menabraknya, mengerutkan keningnya ketika menatap gadis yang berdiri tertunduk di depannya.

“siapa kau? Kenapa kau bisa berada di sini?” tanya Junho sedikit menahan kekesalannya. Gadis itu hanya menunduk, tak berani menatap bola mata lawan bicaranya.

“apa kau keluarga pasien? Seharusnya kau tak berada di sini” Junho sedikit menghaluskan nada bicaranya. Gadis itu masih menunduk, membuat Junho mendesah kesal di buatnya.

“nona, arah ruang tunggu pasien ada di sebelah sana” lanjut Junho menunjuk pintu keluar ruang ICU itu. Gadis itu mengangguk lalu menuruti perintah Junho.

Junho menatap peralatannya yang berantakan, ia memunguti pecahan kaca ampul yang sekarang sudah tak berbentuk. Junho melirik anak ruang di ruang ICU itu, ruang dimana Taecyeon nampak tak terganggu dengan keribut yang baru saja ia buat.

….

Junho keluar dari ICU, sejenak menghirup udara segar yang jarang sekali ia cium beberapa jam yang lalu. Ia menghentikan langkahnya menatap gadis yang ia tabrak tadi meringkuk di lantai. Ia memegang lututnya yang tertekuk membiarkan rambut panjangnya terjuntai. Pundaknya naik turun, Junho menamatinya. Gadis itu menangis, suara isak yang terdengar jelas ia tahan. Junho berjongkok memegang pundak itu pelan.

“nona” panggil Junho lembut, nada suara yang sangat jauh dari yang ia keluarkan tadi.

“maaf jika membuatmu menangis” ucap Junho menyesal.

….

Mereka berdua duduk di sudut kantin rumah sakit, Junho menyodorkan botol mineral ke arah gadis itu. Ia sedikit menyesal telah membentak gadis di hadapannya itu.

“apa keluargamu di rawat di ICU?” Junho membuka pembicaraan. Gadis itu mengangkat kepalanya, tatapannya nampak sedih.

“ah,.. aku tahu” Junho menyimpulkan.

“apa kau sendirian?” gadis itu masih diam. “siapa namamu?” lanjut Junho.

Bola mata di depannya masih menatapnya dalam diam, Junho bukan tipe orang yang pandai bersosialisasi hanya saja melihat gadis itu menangis ada sedikit yang menganggu hatinya.

“baiklah, aku harus segera pergi. Aku tak mungkin meninggalkan teman jagaku terlalu lama” Junho beranjak berdiri, namun langkahnya terhenti ketika gadis itu menahan tangannya.

“aku Ahn Sohee” gumam gadis itu pelan.

….

Hidupnya menggantung, di alam di mana orang mengatakan bahwa ice cream itu sangat enak. Hidupnya menggantung, di alam di mana aroma obat – obatan itu menopang hidupnya. Sudah sejak lama Junho hidup sendirian, kedua orang tuanya meninggal dan hidupnya memang terasa sangat hampa. Ia tak memiliki saudara, hanya kehidupan sebagai perawat yang sedikit membantunya untuk bertahan. Bertahan? Di tempat di mana ruang besar itu menggantung kehidupan mereka dengan berbagai alat – alat medis. Junho cukup kebal untuk mengisi kehidupannya di ruang ini, ICU tempat orang selalu mengatakan transit di mana jiwamu akan berakhir nantinya. Ia sudah cukup kebal ketika suara teriakan bercampur isak tangis itu memenuhi telinganya. Kehidupan di dunia memang tak akan pernah abadi.

“kau sedang apa?” Junho melongok ke arah Taecyeon yang sedang mengisi waktu longgarnya dengan bermain game di tablet Pcnya. Seharian tadi ia mondar – mandir mengurusi pasien yang tiba – tiba tekanan darahnya turun drastis.

“aku keluar sebentar” pamit Junho, tapi pria itu nampak tak bergeming. Junho mendesah pelan, namun langkah pastinya menuntunya ke arah taman yang terletak tak jauh dari ICU. Gadis berambut panjang itu sudah menunggunya, ia memainkan rumput di kakinya yang nampak sedikit mulai meninggi.

“sudah lama?” gadis itu menoleh, tatapannya di sambut jus jeruk yang sedari tadi Junho bawa.

“sedikit” jawabnya menerima Jus pemberian Junho. Pria berpakain serba putih itu duduk di sisi Sohee, menyilangkan kakinya lalu menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi.

“jadi kau menangis bukan karena bentakkanku?” Sohee menggeleng, ia menoleh dan menatap Junho.

“aku menangis karena ternyata keajaiban itu benar – benar ada”

“keajaiban?” Junho terkekeh “aku tak percaya dengan keajaiban” alis gadis itu tertaut.

“kenapa?” tanya gadis itu sedih.

Senyum pria itu terkembang. “aku bekerja di rumah sakit ini sudah hampir 6 tahun, selama 6 tahun itu pula aku merawat orang – orang yang bergulat dengan kematian. Tubuhmu tak akan pernah berbohong, dia juga punya batas hidup di dunia. Kau tak akan bisa memaksanya, memenuhi keegoisan manusia yang selalu ingin bertahan untuk mampu menghirup oksigen” jelas Junho.

“kau terlalu teoritis, seperti kebanyakan dokter – dokter yang mampu menitah panjang pendeknya umur seseorang” gumam Sohee tak suka dengan penjelasan Junho.

“ah iya maaf kau memiliki saudara yang sakit di sini” ujar Junho tak enak ketika menatap perubahan ekpresi Sohee.

“baiklah aku harus segera kembali, sebentar lagi jadwal dokter syaraf akan visite” lanjut Junho menatap jam digital yang melingkar di lengannya. Gadis itu mengangguk, menatap punggung Junho dengan sedih.

….

Junho meregangangkan ototnya yang terasa kaku, jadwal jaga malam memang selalu menguras tenaganya. Pria itu menatap Wooyoung teman jaganya malam ini, pria itu masih duduk di kursi meletakkan tangannya di meja untuk menyangga kepalanya yang beberapa kali terantuk karena ketiduran. Tatapan pria itu beralih pada tumpukan buku di depan Wooyoung, berlembar – lembar laporan keperawatan yang belum Wooyoung selesaikan. Ia menarik kertas itu pelan, berharap gerakkannya tidak membangunkan sahabatnya itu. Junho mengangguk – anggukkan kepalanya pelan melanjutkan beberapa point yang belum Wooyoung selesaikan.

“kau sedang sibuk” suara berbisik Sohee membuat pria itu menoleh ke arah pintu. Ia mengangkat kedua alisnya, nampak kaget melihat gadis itu berani masuk ke ruang ini.

“apa yang kau lakukakn di sini?” Junho berjinjit ke arah Sohee. Ia menarik lengan gadis itu untuk keluar.

“apa kau tahu, jika masuk ke dalam kau harus mengenakan pakaian yang sudah disterilkan?” Junho dengan leluasa melepaskan kekesalannya pada Sohee setelah mereka berdua berada di luar.

“baju yang kau kenakan bisa membawa kuman yang dapat menginfeksi pasien di dalam, apa kau tahu yang dimaksud inos?” gadis itu tertunduk mendengar amarah Junho. Junho menghela nafas dalam berusaha mengontrol emosinya yang tiba – tiba meluap – luap.

“maaf” gumam Sohee bergetar. Junho menatap pucuk kepala gadis itu, helaian yang berhasil menutupi wajah Sohee yang tertunduk.

“aku juga minta maaf sudah memarahimu, ada apa menemuiku?” tanya Junho mulai tenang.

“15 hari lagi kau ulang tahunkan?” tanya Sohee membuat pria itu terperanjat kaget. Untuk bertama kalinya selama dia hidup ada seseorang yang mengingat ulang tahunnya. Dan itu… gadis asing yang baru beberapa hari ia kenal.

“dari mana kau tahu?” Junho menatap Sohee heran. Gadis itu tersenyum kaku, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “aku hanya menebak dari ukiran bolpoin di sakumu” gadis itu menunjuk bolpoin yang bertengger di saku dada Junho.

Junho terkekeh, menyadari gadis di depannya begitu teliti. Ia menarik lengan Sohee pelan, mengajaknya duduk di bangku taman favorite mereka.

“berjanjilah 15 hari lagi kita merayakkannya di sini” Junho menyodorkan kelingkingnya ke arah Sohee. Tindakan yang sukses membuat air mata Sohee meleleh, ia terisak memegang dadanya. Isakan yang berhasil membuat Junho terlihat panik.

Ia beberapa kali menggoyang – goyang pundak Sohee. Berkali – kali pula pertanyaan ‘kau kenapa?’ terlontar dari pria itu. Sohee tetap terisak, membiarkan tubuhnya terpeluk sempurna oleh Junho.

….

Junho menyisir rambutnya namun sedetik kemudian ia kembali ke arah kaca mengacak – acak rambut coklat miliknya. Kedua ujung bibirnya tersungging, ia pikir untuk pertama kalinya ia merasa berangkat bekerja itu cukup menyenangkan. Ah.. tidak bukan itu, ia rasa untuk pertama kali jantungnya terasa berdetak. Pria itu mengambil tas punggung yang sering ia kenakan, menyusuri trotoar malam yang baginya nampak begitu indah hari ini. Ini hanya sebuah jalan yang tiap beberapa meter terhujam lampu jalan, atau di sisi kananya cahaya toko yang nampak bercahaya membasahi trotoar bermotive paving.

Deg

Selalu nampak aneh ketika melintasi jalan ini, dada yang tak berhenti berdetak dengan sangat kencang. Sesuatu yang aneh, ya… memang sangat aneh dan dia tak mengerti itu apa. Junho hanya perlu mengabaikannya seperti biasa.

“selamat malam Jang Wooyoung,” sapa Junho pada teman jaga malamnya.

Ia mengedarkan pandanganya menjelajah seluruh ruangan. “kemana Chansung?” Wooyoung hanya menoleh, menatap Junho yang memasukkan tas punggungnya ke dalam loker.

“dia belum datang?” Wooyoung masih diam sambil mengangguk pelan.

“kalau begitu aku akan mengecek kamar ICU A1 dan A2” lanjut Junho menarik status pasien juga mengecek KIO kedua pasien itu. Meninggalkan Wooyoung yang masih berkutat dengan beberapa cairan infus dan juga beberapa ampul injeksi.

….

Beberapa menit lagi hari ini akan berlalu, dan pria ini tahu apa yang akan menyambutnya beberapa menit lagi. Pria itu menyimpan tangannya ke dalam celana putih yang selalu ia kenakan ketika bekerja. Menyusuri beberapa kamar pasien yang nampak tenang ketika malam hari. Ujung sepatu kulit miliknya berhenti, tergeser beberapa derajat menatap ke arah teman barunya yang tengah duduk di kursi taman favorite mereka.

“sudah lama menunggu?” sapa Junho, gadis itu menoleh menunjukan lengkung bibirnya yang indah.

“tidak” sahut Sohee menatap Junho yang sudah duduk di sisinya.

“ini pertama kalinya aku merayakan ulang tahun dengan seseorang” ujar Junho mencoba mencairkan kegugupannya. Sohee terkekeh, ia menyodorkan mini cupcake dengan lilin kecil di tengahnya.

“tak perlu gugup oppa” ucap Sohee dengan suara parau. Junho tersenyum, menatap lilin kecil itu yang telah menyala.

“apa harapanmu oppa?” tanya Sohee dengan sudut mata yang hampir mengeluarkan air mata. Pria di depannya terdiam sejenak, ia menghela nafas pelan.

“tentu saja panjang umur” sahut Junho mantap.

Lilinnya sudah tertiup, diiringi asap tipis yang nampak muncul di udara. Tak ada nyanyian selamat ulang tahun malam itu, Cupcake di tangan Soheepun terjatuh di rumput. Pria itu membatu, tak ada satu patah katapun yang keluar dari bibirnya. Mimpi?? Benarkan ini mimpi? Gadis di hadapannya menghilang tiba – tiba. Tak berbekas, senyumanpun tak bersisa di sana.

….

Junho meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, baru beberapa menit ia tertidur suara Wooyoung dan Chansung berhasil membangunkannya. Ia menarik sandal yang nampak berserakan di lantai dengan ujung jempolnya. Langkahnya terseok menuju ruang utama kamar perawat, kedua temannya nampak sibuk mempersiapkan beberapa peralatan.

“tiba – tiba saja kondisinya tak stabil” ujar Chansung.

“tekanan darahnya menurun lagi?” Wooyoung menarik gagang telpon di sudut meja. Ia menekan beberapa nomor ketika menatap Chansung mengangguk yakin menjawab pertanyaannya. Panggilan telpon itu tersambung pada dokter jaga, bagaimanpun mereka membutuhkan dokter jaga untuk mengatasi pasiennya.

“ada apa?” tanya Junho pada Chansung.

“pasien A3 yang mengalami kecelakaan beberapa hari lalu keadaanya tidak stabil” jawab Chansung membaca beberapa laporan dari pasien itu.

Chansung dan Wooyoung berlari pergi meninggalkan Junho setelah dokter jaga datang. Pria itu tertegun menatap berkas pasien yang baru saja Chansung letakkan.

“Ahn Sohee” suara pria itu bergetar.

….

Apa keajaiban itu ada? Pertanyaan yang akan selalu muncul dibenak Junho dan ia sekarang percaya bahwa keajaiban itu benar – benar ada. Gadis ini memejamkan matanya, masker non rebreathing bahkan menutupi separuh wajahnya. Detak jantungnya konstan tapi ia tak bergerak, dan ini terjadi sudah satu bulan lebih. Junho yakin tangisnya itu nyata, Junho yakin senyumnya juga nyata dan Junho juga yakin genggaman tangannya saat itu juga nyata.

“kau Ahn Sohee?” pertanyaan itu meluncur, tapi gadis itu tak bergerak. Sunyi dan sangat tenang, hanya gelak tawa benda di sisi gadis itu yang terdengar. Hanya benda bernama elektroda itu yang tertempel di dadanya itu yang seolah mengintipnya.

“sial, apa ini mimpi?” lutut Junho terasa lemas, ini sudah satu bulan lebih dan ia baru menyadarinya. Gadis yang selama ini ia temui ternyata terbujur di tempat tidur ini. menggantung antara ingin hidup tapi kematian tengah menyambutnya.

Junho masih tak bergerak, menatap setiap inci wujud nyata di hadapannya. Berdoa dalam hati bahwa ia butuh keajaiban, sesuatu yang selalu ia ingkari selama ini. Air yang bersumber dari ujung mata Junho nampak jatuh, sejurus jatuhnya air mata dari sudut mata Sohee. Tergerak pelan, ujung – ujung jemari lentik yang sedari tadi membeku seperti mayat yang masih hangat.

Junho mengusap air matanya, ia percaya keajaiban itu ada. Junho mengecek tekanan darah Sohee, memastikan pula suhu gadis itu normal. Ia berlari kecil ke arah ruang perawat yang sedang Taecyeon dan Wooyoung jaga. Ujung bibirnya sedikit terangkat, dan sekarang ia percaya bahwa keajaiban itu ada.

“jika melihat gadis itu aku selalu mengingat Lee Junho” ucap Wooyoung meletakkan infus ke atas meja. Menahan gerak Junho untuk mendekat.

“ya, beberapa hari sebelum kecelakaan itu Junho mengatakan akan mengenalkan kekasihnya padaku” sahut Taecyeon yang sibuk dengan laporan keperawatannya.

“aku benar – benar kehilangan bocah itu” Wooyoung tertunduk. Taecyeon menghentikan gerakkan tanganya.

“secepat itu ia meninggalkan kita” Taecyeon nampak meremas bolpoin di genggamanya.

Junho membisu, kakinya terasa kaku. Ia rasa ini semua hanya mimpi buruk, terpekur mendengar percakapan kedua sahabatnya. Mengingat – ingat beberapa kali teman – temannya mengacuhkan. Ya, selama ini teman – temannya tak pernah menangkap sosoknya. Ia hanya sebuah jiwa yang tersesat di dunia yang ia anggap masih berputar untuknya.

“putriku bergerak, ujung jarinya bergerak” seru oemma  Sohee ke arah ruang perawat. Tertembus sempurna, sosok Junho yang berdiri tertembus wadah nyata oemma Sohee.

Junho terisak, mengingat saat gadis bernama Sohee itu menangis di pelukkannya. Mengingat gadis itu memenuhi janjinya, mengingat seperti apa keajaiban itu berlaku untuk mereka.

….

Beberapa bulan yang lalu.

 

Junho berdiri di sisi jalan menanti Sohee seperti biasanya. Gadis itu melambaikan tangannya, ia berdiri di seberang jalan berjarak beberapa meter dari Junho. Senyum gadis itu terlukis ketika langkah pastinya mendekat ke arah Junho.

“sudah lama menungguku?” tanya Sohee menggosokkan tanganya, ia meletakkan telapak tangannya membingkai wajah kekasihnya.

“tidak, kajja kita akan ketinggalan bus” Junho menarik lengan gadis itu menyusuri trotoar.

Mereka memilih duduk di kursi paling belakang, Junho meletakkan jemari tangannya yang bertautan dengan jemari tangan Sohee ke dalam mantel yang ia kenakan.

oppa beberapa bulan lagi ulang tahunmu apa yang kau inginkan?” tanya Sohee menatap Junho yang duduk di sisinya.

“sederhana” sahut pria itu singkat.

mwo?” gadis itu menautkan alisnya.

“aku hanya ingin kau menjadi orang pertama yang berada di sisiku ketika aku berulang tahun, sebelum orang tuaku meninggal mereka selalu menemaniku” ujar Junho tegar. Sohee menepuk pundak Junho pelan.

“aku janji oppa” ujar Sohee menyodorkan kelingkingnya. Junho akan menyambutnya, namun sebelum kelingking mereka tertaut sebuah truck dari belakang menghantam bus yang mereka tumpangi.

Asap hitam nampak mengepul di ikuti sirine ambulance dan mobil kepolisian yang saling bersahutan. Sohee nampak tak sadarkan diri di antara beberapa puing kaca di sekitar gadis itu. Junho mengerjapkan matanya, ia tak mampu bergerak tubuhnya dan Sohee terhimpit bibir belakang bus. Pria itu masih sempat tersenyum menggerakkan lengannya yang bebas melindungi kepala juga tengkuk Sohee. Air matanya meleleh mencoba menautkan kelingkingnya pada kelingking milik Sohee.

Beg Brag

Bibir truck nampak semakin masuk ke belakang bus, semakin menekan tubuh Junho dan Sohee yang terhimpit. ‘Tuhan ciptakanlah keajaiban untuk kami’ doa itu terpanjat dari bibir Junho sebelum akhirnya kedua matanya tertutup sempurna.

_End_

 

Iklan

Satu respons untuk “ICU ( Oneshoot )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s